BERILAH SEDEKAH DENGAN YANG PATUT MENERIMA

Di Jaman sekarang, mencari pekerjaan memang begitu sulit. Betapa tidak, tidak seimbangnya antara jumlah kelulusan dan lowongan pekerjaan menyebabkan persaingan tidak merata. Akhirnya, orang memilih jalur alternatif untuk mencari nafkah dan sesuap nasi demi mempertahankan hidup. Banyak yang menjadi perampok, maling, kurir narkoba, peminta-minta, penipu, dan banyak lagi. Ada yang bertaburan di persimpangan jalan, ada yang berkeliaran di jalanan di malam hari, ada yang pura-pura menjadi suara sumbang, dan banyak lagi cara yang haram dibuat untuk mendapatkan yang namanya uang.

Tentu kita tidak lupa dengan kasus pengemis di Jakarta. Dari fisik dan pakaian, kita akan iba dan bersedih dengan malangnya nasib pengemis itu. faktanya, ia menghasilkan berpuluhan juta dari pekerjaannya sebagai pengemis. Namanya Walang bin Kilon (54) dan Sa'aran, dua pengemis yang sering mangkal di perempatan jalan di Jakarta. Mereka tertangkap oleh  Dinas Sosial Jakarta dan ditemukan uang sebesar 25 juta di tangan mereka. Tentu menjadi sebuah kebingungan, pekerjaan meminta-minta bisa menghasilkan uang sebegitu besar.


Pekerjaan mengemis Walang tidak senasib dengan Aisyah. Bocak kecil itu justru berada dalam hidup yang mengenaskan. Ia harus membawa ayahnya berkeliling kota Medan setiap hari selama sudah hampir dua tahun. Ia hidup di sebuah becak dan ayahnya tertidur terbujur kaku di atas becak. Kehidupannyapun dipenuhi dengan kesengsaraan. Berharap mendapat sesuap nasi dan pertolongan orang lain agar dia dan ayahny, M. Nawawi Pulungan bisa hidup. Ayahnya lumpuh tidak bisa beraktifitas karena terkena penyakit paru kronis. Mereka lebih sering nongkrong di sekitaran Mesjid Raya, berpanas-panasan dan kadang hujan membasahi sekujur tubuh.

Kisah Aisyah ini baru saja muncul dan sekarang menjadi hot topic negeri ini. Entah apa yang terjadi mengapa baru sekarang Aisyah terdengar di publik. Setelah 2 tahun lamanya hidup terlunta-lunta. Namun tak apalah, kejadian ini satu dari ribuan kisah di negeri ini yang masih tertutup oleh ketidaktahuan kita.

Apa yang menyebabkan kita tidak mengetahui? Atau ketika kita tau, kita sudah melapor, namun tidak ada respon dari lembaga yang bersangkutan? Atau memang sama sekali kita tidak peduli walaupun sudah tau. Analogi ini memang sering terjadi meliputi kita. Sama disaat kemarin, Jumat (21/3) saya pergi ke Talawi, Batubara. Dengan menaiki bus sedang menuju ke tempat tujuan. Bus itu sedang sepi penumpang. Namun, sesampai di sebuah desa di Batubara, yang memisahkan atau batas antara Kabupaten Batubara dan Serdang Bedagai. Ada dua orang yang menaiki bus yang aku tumpangi. Dari wajah dan postur tubuh, kedua anak ini kira-kira berumur 15-18 tahun. Mereka mengenakan baju koko dan kopiah. Namun di tangan kanannya, mereka memegang kotak infaq. Mereka duduk di bangku ke dua di belakang supir. Sedangkan aku berada di bangku keempat.

Awalnya aku tidak merasa peduli dengan kehadiran mereka. Namun, setelah sampai di suatu tempat, di persimpangan, Simpang Sei Bejangkar. Aku melihat kedua remaja tersebut sudah berubah menjadi anak muda dengan penampilan anak jaman sekarang. Satu orang memakai baju kaos metal dengan celana jeans, dan satu lagi memakai kaos kemudian dibalut kemeja panjang dengan kancing terbuka dan lengan panjang di gulung sedikit. Tak lupa jam berwarna merah menempel di tangan sebelah kiri dengan rambut yang acak-acakan. Mereka kemudian merokok dan tak sengaja kulihat mereka membagi uang. Aku tak tau uang tersebut apakah uang mereka, atau uang dari kotak infaq. Namun hipotesisku berkata, mereka mencari kesempatan dari kebaikan orang. Yaitu meminta-minta dengan membawa kotak infaq untuk kepentingan sendiri.

Ini bukan satu kasus yang pernah terlihat. Di daerah rumah saudara kandung di Sunggal, Deli Serdang, ada anak-anak yang dua tahun yang lalu sampai sekarang terus meminta infak buat musholla yang ada di Kelambir lima. Sempat aku menyindir anak tersebut degan bertanya sudah sejauh mana musholla yang dibangun? Ketika aku bertanya di daerah mana, mereka hanya diam dan berkata di daerah kelambir bang, ketika ditanya lagi, mereka malah pergi.

Sebenarnya masih banyak kasus yang seperti itu, dari yang dalihnya panti asuhan, anak yang lumpuh, dan lain sebagainya. Cara yang unik dan berbeda menjadikan mereka sanggup menipu masyarakat demi sesuap nasi. Padahal perbuatan tersebut adalah perbuatan yang sangat tidak baik. Mencerminkan sebuah kemalasan dan menipu orang.

Kita juga sebagai manusia yang ingin mengharapkan pahala, juga harus mempertimbangkan dengan siapa sedekah yang harus kita berikan. Terkadang kita memang iba dan tidak sanggup serta tidak tega melihat mereka. Seharusnya negaralah yang berhak memelihara mereka. Maka terbentuklah lembaga dinas sosial yang mengurus para pengemis.

Tapi faktanya, masih banyak para pengemis leluasa di jalanan dengan meminta-minta. Yang paling membuat ngeh adalah ketika berjubahkan agama. Dengan memakai atribut agama, untuk meminta belas kasihan orang. Tentu agama itu nantinya yang akan rusak dibuat mereka. seharusnya kita bisa menjadi pelapor kepada para petinggi kita untuk menyelesaikannya. Kita boleh berbebelas kasih kepada orang, namun kita juga harus melihat. Bisa jadi, dari infaq yang kita berikan, untuk kejahatan mereka.

Komentar

Postingan Populer