JOKOWI INGKAR? MUNGKIN TIDAK
Banyak yang bersimpati ketika
Megawati secara resmi mengusung Jokowi sebagai calon presiden dari Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan. Namun, banyak juga yang mengkritik bahkan menghujat
Jokowi untuk maju ke RI 1. Alasan-asalan yang menghujaninya adalah ingkar
janjinya untuk mengurus Jakarta sampai 5 tahun kedepan. Namun, secara
konstitusi, tidak ada masalah yang membuat Jokowi harus nangkring menunggu 5
tahun dengan membereskan Jakarta. Lontaran kata sekeras mungkin mencibir Jokowi
sebagai penghianat. Bagaimana bisa seperti itu?seperti apa kacamata orang yang
mengatakan itu?
Kita harus melihat strategi dan
sudut pandang yang sulit terlihat orang-orang yang memang punya hati tertutup
dengan orang yang dibencinya. Jika orang tersebut bisa melihat dari sudut
sempit yang tidak pernah terpikir sebelumnya, aku rasa orang akan bisa melihat
cahaya kecil namun cerah mengusik hati orang-orang yang benci itu. begitu juga
dengan Jokowi. Aku ambil sudut pandang suuzon dan strategi yang baik buat
Jokowi.
Kita melihat, banjir dan macet
masih melekat sebagai ikon kota dengan beribu budaya di dalamnya, Jakarta. Jokowi
adalah orang yang paling tau apa yang terjadi. Mengapa semua itu bisa terjadi. Ditambah
lagi masalah yang berat datang bertubi-tubi. Lihat saja kasus pengadaan bus
Transjakarta. Bus yang didatangkan dari Cina sangat jauh dari kata berkualitas.
Bisa dibilang bus ‘dangak-dangak’ seperti angkot 21 Kuning trayek Helvetia
Sambu yang pernah eksis di Medan sebelum punah sekitar tahun 2007.
Jika melihat jejak rekam Jokowi
yang ‘cabut’ sebelum masa jabatan selama dua kali membuat banyak orang
mengatakan bahwa ia inkosisten. Setelah memegang tambuk kekuasaan di Solo
selama 2 periode, namun di periode kedua, ia terpaksa pindah ke Jakarta karena
permintaan partai. Dan sekarang ini, belum 3 tahun menjabat, ia sudah diusung
Megawati dan di deklarasikan bahwa harus mengurus rakyat Indonesia dengan
menjadi calon presiden yang akan kita pilih di 9 Juli mendatang.
Sebagian yang lain mengatakan
bahwa Jokowi terlalu dini untuk menerima pinangan ini. Ada waktu yang lebih
baik nanti ketika ia mengakhiri masa jabatannya di ibukota, tepatnya di pemilu
2019. Masih banyak pekerjaan rumah yang berat untuk diselesaikan. Kita melihat
banjir dan macet masih menjadi aroma menyeramkan di Jakarta. Apa yang menyebabkan
ia memilih untuk melangkah lebih jauh dan mencoba mencicipi indahnya tinggal di
Istana Negara?
Kalau melihat dari kacamata
penulis, ada beberapa yang sudah dikaji lebih jauh oleh penulis terkait
deklarasinya sebagai calon presiden. Salah satu yang menjadi keinginannya
adalah kebijakan regulasi. Seperti yang ia singgung di kompas.com, bahwa ada
beberapa kebijakan negara yang beebenturan dengan kebijakan dia sebagai
gubernur seperti pengelolaan jalan nasional, pengelolaan 13 sungai, hubungan
dari kota-kota sejabodetabek. Ia melihat, ada sedikit masalah yang menyebabkan
dia tidak bisa berbuat lebih jauh untuk memperbaiki. Menurut pernyataannya,
saat ini hubungan dengan para menteri terkait permasalahan itu berjalan
harmonis. Namun yang menjadi masalah adalah adegan cepat untuk mengeksekusinya.
Megawati juga pasti sudah melihat
permasalahan itu sehingga ia berani mengambil keputusan untuk menaikkan Jokowi
sebagai calon presiden. Jokowi juga sudah memantapkan hati ketika berada di
Rumah Pitung, menerima telepon Megawati, kemudian ia mengumpulkan para wartawan
dan ia mengatakan baru diusung Megawati menjadi calon presiden. “Dengan
mengucapkan bismillah, saya siap menjadi calon Presiden dari PDIP.” Kemudian ia
mencium bendera merah putih yang berada di rumah tersebut.
Yah, Jokowi memilih menjadi RI 1
agar mempunyai kebijakan yang lebih luas sehingga ia bisa mengubah Indonesia ke
arah yang lebih baik. Ia mempunyai kebijakan untuk bisa membangun Jakarta
sehingga semua permasalahan bisa diselesaikan. Saat ini, ia selalu
dipersalahkan karena tidak bisa mengurus banjir dan macet. Namun ia
berspekulasi bahwa ini tidak bisa ia kerjakan sendiri sebagai gubernur. Namun,
kebijakan pemerintah pusat sangat penting agar kebijakannya sebagai gubernur
juga berjalan dengan lancar. Banyak orang yang mencercanya, karena tidak
mengerti regulasi. Seharusnya jatah kerjaan pemerintah, namun ia yang terkena
imbasnya. Kita bisa melihat permasalahan banjir yang lalu. Saat pemprov Jakarta
berniat membeli lahan di daerah lain untuk mengurangi titik air di Jakarta.
Dari sinilah dapat disimpulkan,
bahwa Jokowi dan partainya PDI-P, melihat sudut kecil itu. Jika sudut kecil itu
bisa dikejar dan diketahui asal cahaya, maka negara ini bisa diperbaiki dari
permasalahan yang melandanya kini. Mungkin bencana semakin menjauh sesuai
harapan kita selama ini. tidak ada lagi orang takut untuk pergi ke rumah sakit
karena kekurangan uang. Tidak ada yang takut untuk menyekolahkan anak, dan
tidak ada yang takut menjadi pengangguran. Jokowi tidak pergi meninggalkan
Jakarta, namun ia ingin membangun Jakarta lebih luas lagi dengan kebijakan yang
juga luas nantinya.



Komentar
Posting Komentar