Senandung Uncu Salmiah


Kampung nelayan....

Elok budiman....
Hidup nelayan....
Berlimpah ikan.....

Tuah bersandang...
Adat menjulang...
Jaga melayu...
Sentosa maju....

“Tepak Melayu : Sekapur sirih, Sejuta Pesan”


Bersenandung uncu salmiah didekat sungai penuh pohon bakau semua. Melihat nelayan mondar-mandir berganti-ganti arah. Perahu usang terbalik disebelahnya. Burung berkicau pergi meninggalkannya. Air mata jatuh tak terhingga.  Ada apa gerangan wahai uncu salmiah. Getaran hati sudahpun lara. Penyayang hati hilang ntah kemana. Buaian jiwa pergi ke syurga. Mengingat masa mengalir duka. Duduk di ujung semenanjung menunggu ntah apa yang tiba. Uncu salmiah menangis merana.

                Uncu Salmiah merantau ke negeri sebelah. Hutang menjepit. Dambaan jiwa sudah tiada. Tak ada lagi tempat nak bergantung. Orang tua jauh di alam sana. Kakanda tercintapun tenggelam di lautan malaka. Hanya satu pundak kasih sayangnya. Satu-satunya dambaan jiwa. Buah hati kecil nan mempesona. Tumbuh sehat dan senyuman dari bibirnya. Membuat uncu sedikit tersenyum. Hilang sebentar masalah dalam dunia.


                Esokpun pergilah dia dengan kapal pengumpul ikan itu. Menyebrang dari lautan malaka. Mencari arah tuk menyempurnakan sedikit hidup yang pahit. Uncupun rela meninggalkan anak terkasih. Uncu takut apa yang terjadi dengan si buyung. Buyung masih 5 tahun. Tak tau apa-apa. Yang dia tau esok maen dekat pekan ntu. Menangis uncu memikirkannya.

                Malam terang bulan dipagari bintang terlihat dari bilik uncu. Rumah petak kecil sederhana di Kampung Nelayan ini disinari lampu teplok hitam yang terlihat sudah 5 tahun tak diganti. Berpijak tanah liat uncu naik ke atas papan tempat tidur kesayangnnya. Penuh cerita suka dengan almarhum kakanda tercinta. Namun habis pula dimakan ombak. Uncu menangis terisak-isak. Si buyung merengek di atas papan. Uncu mulai bernyanyi. Suara uncu salmiah terkenal sampai ke kampung sebelah.gadis melayu dengan suara merdu. Terisak dia didepan si buyung. Dipeluk hangat penuh kasih sayang. Uncu salmiah tak tega meninggalkannya. Dia baru saja genap 5 tahun.

Buah hatiku,,junjungan jiwa..
Tidurlah tidur ya anak...ibu dodoikan ya sayang
Dodoi si dodoi....dodoi si dodoi...

Si buyung terlelap dipelukan ibunda tercinta. Tak tau dia besok akan ditinggal lama ibunda. Malam itu juga uncu membawa si buyung ke kampung sebelah. Kampung tualang namanya. Uncu ternyata masih mempunyai abangda dari kakanda tercinta. Biasa abang iparnya itu dipanggil Pak Ngah di kampung ntu. Terkenal beliau akan suara mengajinya. Hidup berbakti menjunjung budi pekerti. Agama bersanding dengan tauladan. Ibadah pula tak pernah tinggal. Pak ngah elok menjunjung adat. Pendekar melayu kekar ternama.



“kau tetap ingin pergi adinda?”
“Ya abangda. Ini demi masa depan si buyung. Hamba tak mau dia menderita nantinya. Biar jualah hamba yang menderita untuk kebahagiaannya.” Uncu terlihat menangis.
“aku akan menjaganya wahai salmiah. Kau baek-baeklah dinegeri sana. Cari pekerjaan yang diridhoi Allah. Biar si buyungpun diridhoiNya. Dikau tak usah khawatir. Si buyung akan kuanggap layaknya anakku. Agama dan adat akan ada dalam dirinya. Tinggal kau jualah yang mau dia jadi apa. Dan jangan pernah kau tak pulang.” Pak Ngah memberi nasehat.

                Hari sudah subuh. Ayam berulang kali berkokok membangunkan insan tuk bermunajat. Membangunkan insan tuk memperkaya diri. Uncu sudah siap beribadah. Dikumpulkannya sedikit selendang dan baju kurung buat pengganti disana. Tak lupa sedikit bubur pedas sisa tadi malam jadi santapan makan pagi ini. Uncu sedikit gemetar menunggu kapal ikan itu.                Kapal kepunyaan sahabat kakanda. Uncu salmiah 25 tahun usianya. Sungguh muda. Masih cantik laksana putri melayu bermahkotakan permata. Lagi-lagi menangis tersedu ia. Bagaimana buyung kelak. Kepada Tuhanlah dia memohon.

Berkorban apa saja, harta ataupun nyawa.
Itulah kasih mesra, sejati dan mulia.
Kepentingan sendiri, tidak diingini
Bahagia kekasih saja yang diharapi.
(Berkorban apa saja – P.Ramlee dalam film Hang Tuah:1957)

***

                Sepucuk surat merah datang berikan kabar ke kampung tualang. Pak Ngah sedang mengajar ngaji di musolla kecil itu. Berlari-lari Pakcik Darul. Tergenggam surat. Berteriak dari luar musolla. Terheran petani padi melihat pakcik terseok-seok.
“ade kabar pakcik dari negeri seberang.”
“kabar apa pula itu. Rehatlah kau sejenak. Kembalikan dulu tenaga batinmu. Penat ku tengok dikau wahai Darul si tukang kopi.” Berkata Pak Ngah.

Ternyata kabar datang dari uncu salmiah. Gadis elok cantik pujaan para pemuda melayu. Ibunda si buyung. Terdengar kabar kalau dia sudah bekerja di rumah makan melayu di negeri seberang. Pak Ngah tersenyum sedikit mengeluarkan airmata. Sudah 3 tahun dia meninggalkan si Buyung dan Kampung nelayan. Namun, si buyung melongok kebingungan. Dia tumbuh menjadi pemuda soleh. Didikan pak Ngah bermutu. Namun si buyung tak tau. Yang buyung tau sekarang kalau Pak Ngah adalah keluarganya. Uncu Salmiah hanya berpesan kepada Pak Ngah,kalau dia belum bisa pulang dalam waktu dekat. Banyak masalah yang dihadapi di negeri seberang. Perlu pendanaan yang besar. Dia juga berpesan untuk menjadikan Buyung seorang yang bijak pandai berbudi pekerti. Pak Ngah sudah menjamin itu.

Buyung pandai bersenandung. Syair fatwa pujangga dinyanyikan dengan syahdu. Hari ini dia nak bercita-cita menjadi guru. Dia bercita-cita nak kuliah di kampus dambaan pemuda-pemudi melayu di kota sana. Dan merindukan pelukan sang bunda. Bepantun mahir dia. Pak Ngah bahagia melihatnya.

Duhai apakah gerangan budi balasan
Bagi insan,melahirkan membesarkan
(Surga di Telapak kaki Ibu-Asmidar Darwis)

Di Negeri seberang, Uncu salmiah tinggal di rumah makan itu. Uncu salmiah tak lupa agamanya. Elok berbudilah beliau disana. Tak gentar menghadapi rintangan pemuda belang. Setiap malam menyebut nama si buyung. Bersenandunglah dia setiap malam. Bulan memuncakpun beliau berlinang air mata.


Layang-layang bertali benang
Putus disambar elang si burung elang
Saya umpama pancuran usang
Oranglah haus baru terkenang
(Srie Banang-Nurainun)

**

                Uncu salmiah bukannya mudah hidup disana, penuh tragedi-tragedi keji yang melanda. Selama bertahun-tahun sudahpun banyak berganti tempat kerja. Keringat bercucur demi sang buah hati si buyung tercinta. Namun apalah daya. Sangat hancur hatinya. Bekerja menjadi hamba sahaya di hitam bengis di rumah yang besar. Di siksa, dicerca, terluka jiwa,batin, dan raga. Si hitam bengis nampak berselera melihat kemolekan uncu. Malam itu di rumah si hitam. Berdua mereka tinggal. Uncu sedang sibuk menggosok dan sambil bersyair dia. Si hitam tampak memangsa. Uncu takut bukan kepalang. Si hitam menggila. Diterkam uncu dengan syahwat besarnya. Tak mampu uncu membela. Dilihatnya gosokan masih panas menyala. Berlari dia memukul si hitam. Diambilnya gosokan dan hanguslah muka si hitam. Uncu menangis kuat. Bersyukur Tuhan masih membela kehormatannya.

                Dipenjaralah dia. Si hitam menipu. Seakan-akan uncu yang bersalah. Memang, di negeri ini orang-orang seperti uncu salmiah terpojokkan. Ntah apa sejarahnya. Memang kedua negeri sering bergejolak. Uncu bersalah, dipenjara dia untuk 30 tahun lamanya.


10 tahun kemudian

Bertahun-tahun sudah lama
Tiada pernah kita berjumpa
Engkau pergi entah kemana
Duhai kasih ku yang setia
(Jauh di Mata – Sharifah Aini)


                Sore nan elok. Ketika petani pulang dengan sawahnya. Nelayan pulang dengan ikannya. Bakau pun bergoyang terkena kencangnya angin ntu. Uncu salmiah duduk merenung di dermaga kampung nelayan. Tak habis-habis air matanya jatuh berderai. Kepulangan membawa derita. Dia baru pulang dari negeri seberang. Baru pula dia mendengar dari Pakcik Darul. Tukang kopi di dekat dermaga itu. Sepertinya dia tak tahan mendengarnya. Rasanya ingin pergi ke dunia selanjutnya. Tak tahan dengan kehidupan dengan segumpal penderitaan.


                Uncu Salmiah disahkan tidak bersalah. Pengadilan telah mendapat bukti baru. Dan kota pusat negeri uncu berjuang demi kebebasan uncu. Memang uncu tak bersalah. Ada bukti dari anak si hitam yang baik dan cantik itu. Bapaknyalah yang bersalah. Dia bersumpah.

                Uncupun pulang dan tak mau lagi melihat negeri seberang itu. Sungguh memilukan kisah pengabdiannya bertahun-tahun disana. Uncu ingin melihat anak dan abangda iparnya dan melepas rindu yan cukup mendalam. Namun, kabar pakcik Darul menghancurkan batinnya.

                Pak Ngah, wafat disaat ibadah hajinya. Sungguh bahagianya dia ketika mendengar si buyung yang memberangkatkan haji pak Ngah atas prestasinya. Si buyung orang terpintar di kampung ini.bahkan di antara beberapa kampung lainnya. Namun, si buyung tetaplah manusia. Pemuda pendek umur yang sudah menghilang sejak ia lulus sekolah dan baru saja membeli sebuah koran dari anak ingusan. Dia lulus di kampus kebanggaan pemuda-pemudi melayu itu. Namun malang nasibnya. Nasi sudah menjadi bubur. Buyung pergi meninggalkan dunia seusai membaca pengumuman itu. Wafat karena sakit perut. Itu kata mereka.

                Uncu salmiah terisak menjerit. Baju kurung kuningnya sudah basah kuyup. Mengelap air matanya yang tak kunjung usai. Uncu salmiah sedih teriris. Dia tak pernah melihat anak buaiannya selama 13 tahun. Ketika pulang, dia melihat anaknya sudah ada dalam pemakaman. Semakin gila uncu salmiah. Dilihatnya tempat sudah sepi. Dan uncu salmiah menjeburkan badannya ke sungai. Uncu salmiah tak ahli berenang. Sampai mautpun mendatanginya.

                Uncu salmiah penuh pengorbanan. Menjadikan anak yang berprestasi. Uncu salmiah sudah kehilangan semua. Untuk apa dia ada di dunia. Sudah cukup kesengsaraannya. Pergi berlari sekencangnya dia dari pusara anaknya tercinta. Sudah lama tak berjumpa, hancur pula pertemuannya. Pusara kasih ananda tercinta. Berharap cinta dan pertemuan dengan anaknya di sungai pukat itu.


Kampung Nelayan....

Kisah terjulang....
Anak melayu...
Hilang di dunia....

Menunggu berjumpa...
Akhirat sana....
Ananda tercinta...

Bunda nak berjumpa......


Ahmad Hakiki

Komentar

Postingan Populer