Televisi itu mengerikan!!!! Jika...
Pertelevisian Indonesia sudah
amat sangat jauh dari pendidikan. Acara-acara yang ditayangkan juga sangat
bertentangan dengan budaya timur yang sopan dan menjaga adat istiadat baik
tingkah laku, perkataan, dan penampilan. Hampir dari pagi sampai malam kita
dipertontonkan pakaian yang tidak senonoh, umbar-umbar gosip dan lain
sebagainya.
Orang-orang yang menjadi panutan
sudah mengajarkan kita kepada hedonisme, westernisasi, dan lebih parah lagi
adalah kesombongan dengan memperlihatkan kekayaannya. Kita lihat
sinetron-sinetron yang sepertinya lolos sensor. Dari dulu sampai sekarang
ceritanya selalu ketebak. Antara orang yang mempunyai kekurangan dengan orang
kaya. Endingnya selalu saja sama. Setiap episode menampilkan beragam hedonisme
dan westernisasi. Yang paling parah adalah kehidupan siswa-siswi yang jauh dari
kehidupan siswa yang sebenarnya.
Begitu juga infotainment yang
dari pagi sampai malam terus ada di beberapa stasiun televisi. Rasanya mereka
sukses membuat masyarakat tidak ingin ketinggalan dengan kehidupan para artis.
Baik perceraian, perselingkuhan, terlibat kejahatan, dan lainnya yang tidak
mempunyai unsur pendidikan sedikitpun agar negara ini lebih baiknya.
Apakah tidak ada sedikitpun yang
mampu membuat anak-anak kita tidak lagi bangga menyanyikan lagu-lagu orang
dewasa yang setiap liriknya terungkap kata-kata vulgar? Apakah tidak ada lagi
yang peduli dengan pertelivisian yang hanya mempertontonkan kekuasaan dengan
fitnah-fitnah sehingga terdengar di telinga anak-anak?
Kalau kita kaji, tentu para
pencari uang di pertelevisian lebih memilih keuntungan daripada sekedar memberi
pendidikan. Mereka tidak peduli dengan efek yang timbul akibat tontonan
tersebut. Apalagi jam tayang dari tontonan tidak berbobot itu ketika jam-jam
anak-anak menonton dan jauh dari jangkauan orang tua.
Ternyata apa yang diungkapkan
Karkoons yang mengungkap sebuah rahasia yang sangat luar biasa, yaitu
menganalisis Dhani dan Yahudi beberapa tahun yang lalu dan sekarang akun
tersebut sudah diblokir peredarannya di youtube.com. Dari 8 episode, episode
ketujuh yang membuat saya tertarik dan berkenaan dengan pembahasan kita. Saya
baru tau kemarin bahwa ada alasan mengapa stasiun televisi membuat acara musik
itu di pagi hari. Entah kebetulan atau tidak, namun saya setuju dengan hal
tersebut. Ada keganjilan memang melihat tayangan yang pagi hari sudah ada.
Kalau melihat di tahun 90an, tidak pernah saya lihat ada acara musik live di
pagi hari.
Dari kajian video tersebut,
Karkoons mengatakan ketika melihat adegan tarian vulgar yang diperlihatkan di
pagi hari. Mereka berpendapat bahwa kebudayaan itu memang sengaja diperlihatkan
di pagi hari. Semenjak hari gelap,
pikiran dan otak-otak yang telah diperalat itu (akibat alpha brain state yang
berkepanjangan) pergi berbondong-bondong menyaksikan idolanya, dan jutaan lagi
yang menanti di hadapan televisi, siap untuk mengalami kondisi kesadaran
gelombang alpha yang diperpanjang. Jika proses ini berlangsung terus-menerus
dan berkelanjutan, akan mengakibatkan tumpulnya logika dan analisis kritis,
yang mengarah kepada fanatisme membabi buta. Pada titik dan otak kita yang
terbuka, mereka dengan leluasa bisa menjejalkan defenisi dan cara pandang
mereka. Tentang benar dan salah, moralitas dan nilai, serta norma dan dogma.
Merubah kita menjadi tipe pribadi yang mereka inginkan. Ketika fanatisme telah
menguasai, maka segala cara pandang dan nilai-nilai yang ditanamkan oleh sang
idola, akan menjadi tolak ukur dan pandangan yang seakan-akan berasal dari kita
sendiri.
Apa yang dikatakan memang ada
benarnya walau secara ilmiah, kita belum bisa percaya karena referensi yang
mereka gunakan tidak mereka (Karkoons) tunjukkan. Namun fakta sudah banyak
terjadi. Banyak yang mengagumi artis-artis dari glamournya, cara berpakaian
yang jauh dari adat timur, kemudian timbulah kesombongan. Itu yang terjadi di
sekitar lingkunganku. Ditakutkan nantinya, ia kehilangan jati dirinya sebagai
seorang yang beragama ataupun berbangsa. Maka, hilanglah pula masa depan bangsa
yang diidam-idamkan itu. Yang lebih parah memang ia kehilangan jati diri
keagamaannya. Mungkin contohnya, ia tidak memakai jilbab lagi di jalanan hanya
karena ideologis yang sudah menyimpang. Lucunya, mereka mengatakan bahwa
memakai jilbab adalah panggilan hati. Bohong memakai jilbab namun kelakuan
jahat. Mereka mengatakan bahwa memperlihatkan aurat lebih baik karena perilaku
juga yang baik. Mereka tidak melihat bahwa hukum memakai jilbab dan berprilaku
baik adalah 2 hal yang berbeda. Perbuatan dinilai satu dan menutup aurat
bernilai satu. Tidak bisa disamakan. Al-quran jelas mengatakan bahwa wanita
wajib menutup aurat. Wanita Islam mana lagi yang bisa menolaknya?
Memang, kita tidak bisa ikut
campur apa yang orang lakukan dan apa yang diinginkan. Kita tidak mempunyai hak
untuk marah saat anak bangsa dengan bangga berpakaian barat namun ia tidak
mengetahui sejarah bangsanya sendiri. Memperlihatkan auratnya namun ia tidak
mengetahui siapa itu Tan Malaka. Mereka bangga mengetahui hal-hal di televisi
namun lupa dengan bangsanya sendiri. Ini merupakan saran untuk negara. Karena
negaralah yang mempunyai kebijakan tertinggi atas penyiaran televisi yang baik
untuk pendidikan.
Kita rindu anak-anak kita
menyanyikan lagu anak, rindu dengan pelajaran budi pekerti, rindu dengan
mencintai bangsa dengan menutup aurat seperti adat timur yang terkenal dengan
norma kesopanannya.



Komentar
Posting Komentar