Haji Backpacker: Perjuangan Menjemput Maaf


Film-film Indonesia semakin hari semakin menunjukkan eksistensi dan kualitasnya. Banyak juga yang mencari angle film yang berbeda dari sebelumnya untuk mendapat perhatian lebih dari penikmatnya. Badget pembuatannya juga tak tanggung-tanggung. Nampaknya sudah melek mata para pencari dolar di industri satu ini.

Film-film Indonesia menarik untuk dilihat. Dari segi terbitannya, film di Indonesia biasanya menunggu momen. Momen apapun itu. Entah Idul Fitri, kemerdekaan, hari lahir, dan sebagainya. Kali ini, kita akan membicarakan satu film di momen yan tepat. Haji Backpacker.

Dari namanya saja, kita pasti beropini bahwa film ini adalah cerita seseorang yang naik haji dari perjalanan darat. Tidak, jawabannya salah. Karena sepanjang perjalanan film ini. tidak ada satu scene pun yang menjelaskan si aktor berniat untuk haji.


Haji Backpacker Bukan ‘Haji’ dan ‘Backpacker’
                Judul terkadang membuat penasaran. Dari judullah orang bisa terhanyut akan kekayaan penasaran itu. Seperti sebuah berita tepatnya, yang menentukan si pembaca akan membaca jika judul yang dimuat terbaca unik atau dengan kata yang membuat bertanya-tanya. Mungkin seperti itulah dengan film ini. Seperti disebutkan di atas, tidak ada hubungannya film ini dengan niat haji dari si aktor. Di film ini, kalimat haji ada di akhir film. Itupun niat dari si aktor.

                Film ini adalah film kekesalan Mada, yang diperankan Abimana Aryasatya yang sakit hati setelah Sofia, yang diperankan oleh Dewi Sandra, orang yang sangat dicintai oleh Mada lari meninggalkan Mada di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia, yaitu hari pernikahan mereka. Di film ini, kepergian Sofia dijelaskan di mimpinya Mada.

                Karena insiden melarikan diri itu, Mada jadi stres berat kemudian meninggalkan tanah air dan pergi ke Bangkok, Thailand. Di film ini tidak dijelaskan awal perginya Mada, mengapa memilih Thailand, tidak dijelaskan. Bahkan alasan lainnya, yakni kekecewaannya dengan sang Ayah, yang diperankan Ray Sahetapy juga tidak ditampilkan. Membuat penasaran dan bertanya-tanya. Atau memang ini trik si sutradara agar penonton yang menentukan bagaimana kisah itu.

                Kekesalan itu juga membuatnya berhenti untuk bermunajah kepada sang Khalik. Ia frustasi karena ibadah yang selama ini ia kerjakan, tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan merenggut kebahagiaanya. Karena itulah, ia semakin jauh dari Tuhannya dan malah terjerumus ke lembah gelap
menuju dunia malam yang penuh dengan maksiat.

                Sepulang dari have funnya, Mada dan teman bulenya oyong berjalan pulang melewati sebuah jembatan sekitaran tempat preman Bangkok hidup. Berawal dari dompet yang jatuh ke meja para preman yang sedang berjudi, dari sinilah awal perjalanan ke 9 negara berbeda setelah Thailand. Mada membunuh petinggi preman dan kemudian menjadi buronan preman Bangkok yang beringas. Iapun lari ke Vietnam. Dari pelariannya saja tidak ada hubungannya dengan Haji dan Backpacker. Perjalanan ke Vietnam pun dikarenakan kesalahan yang ia buat. Di film tersebut justru ia kekeuh ingin tetap di Thailand.

                Mungkin karena Backpacker adalah perjalanannya yang menapaki medan-medan berat dan cuaca yang beranekaragam. Bagaimana bertahan hidup dalam perbedaan yang mencolok. Ditambahlagi, tas gunung besarnya serta jaket TNF yang membuat beliau dikatakan Backpacker. Namun sejatinya, Backpacker sejati adalah orang yang berani menapaki daerah jauh satu persatu untuk mempelajari kebudayaan sekitar tempat yang akan dikunjungi nanti.
Dihantui mimpi yang berulang
                Awal film ini dikatakan religius adalah saat Mada diganggu oleh mimpi-mimpinya. Ada beberapa kali adegan Mada bermimpi. Mulai dari pertemuannya dengan ayahnya yang memakai pakaian ihram. Kemudian mimpinya menaiki sebuah balon gas besar, kemudian balon gas itu tertusuk menara mesjid dan Mada jatuh beserta balon gasnya.

                Dari mimpi itulah, ia sampai ke India, ke tempat seorang guru sufi yang bisa menafsirkan mimpi yang dialami Mada. Beberapa kelompok sufisme memang mempercayai bahwa mimpi itu datangnya dari Allah. Salah satunya dari film ini.

                Perjalanannya ke India diawali perjumpaannya dengan pedangan India di Tiongkok, yang melihat Mada tidur dan agak aneh. Kemudian Mada menjelaskan kepada orang itu. dialah yang menginstruksikan Mada mencari kebenaran ke Gurunya yang berada di India sekaligus mengartikan mimpi yang menghantuinya berhari-hari itu.

               
Perjalanan ke 9 Negara
                Salah satu kelebihan film ini adalah syuting di 9 negara berbeda, Indonesia, Thailand, Vietnam, Tiongkok, Tibet, Nepal, India, Iran, dan Arab Saudi. Badgetnya pun tak tanggung-tanggung, hampir 12 Milyar Rupiah.

                Sang sutradara mempertontonkan visual daerah masing-masing. Kemudian banyak selingan panorama yang ada di negara-negara tersebut. Keliatan memang, hampir seluruh film-film Indonesia yang syuting di luar negeri pasti menonjolkan panorama tempat di sela-selanya. Begitu juga Haji Backpacker, setiap perjalanan dan berpindah negara, tayangan panorama selalu muncul berulang-ulang. Bayangkan kalau film itu menyuguhkan budaya islam di tempat masing-masing, pasti film ini apik untuk dijadikan pembelajaran.

                Perjalanan ke 9 negara terasa singkat. Dengan durasi waktu yang tidak sampai 2 jam membuat perjalanan harus disingkat. Tidak begitu terkesan melihat perjalanan sesingkat itu. Untuk film seperti ini, memang sepantasnya dibuat 3 jam. Agar perjalanannya di 9 negara tersebut terasa renyah.

                Perjalanan dimulai dari Thailand, kemudian ke Vietnam, menyasar sampai ke Tiongkok, berlabuh ke Tibet, menjejaki Nepal, Berguru sejenak di India, tertangkap dan diinterogasi oleh kelompok garis keras di Iran, dan akhirnya sampai di kuburan masal jemaah haji di Mekah, Arab Saudi.

Menjemput Maaf
                Film ini mengambil tema besar “menjemput maaf” sang anak karena telah bersalah meninggalkan ayahnya. Mada lebih memilih pergi dan menuju tempat yang lebih buruk hanya karena nasehat ayahnya selama ini membuatnya kecewa karena terlalu banyak berharap. Batalnya pernikahannya dengan Sofia menjadi puncak kemarahan batinnya dalam melakukan ibadah kepada Tuhan. Ia menyalahkan ayahnya yang membohonginya selama ini. Ayah yang selalu menjadi penasehat terbaiknya dianggapnya pembohong besar yang menawarkan benih-benih harapan yang tidak kunjung didapatnya. Diputuskanlah ia pergi meninggalkan Indonesia dan pergi ke Thailand.

                Kisah hidupnya di Thailand merubahnya menjadi sosok yang tidak takut Tuhan. Sampai akhirnya ia mendapat kabar bahwa kakaknya sudah sampai di negeri gajah putih itu. Perjumpaan di sebuah mesjid membuat hatinya bergetar. Kakaknya membawa kabar yang membuatnya makin terpuruk. Ayahnya telah meninggal dunia saat melaksanakan haji di Mekkah. Hatinya hancur. Masalah makin bertambah. Menjadi buronan preman dan kabar buruk membuatnya semakin kacau. Pikirannya makin tak menentu. Begitu berdosanya ia telah meninggalkan ayah yang sejak kecil membesarkannya tanpa adanya sang Ibu yang telah dahulu meninggalkannya ketika dia kecil. Ayahnya yang selalu menjadi kunci kebahagiaanya dalam beribadah harus sakit karena tindakan bodoh Mada yang pergi jauh dari pandangannya.

                Setelah melarikan diri dari Thailand karena insiden pembunuhan, ia menetap di Hanoi, Vietnam untuk bertahan hidup. Setiap hari bayangan ayahnya datang. Ia terpukul dan ingin meminta maaf. Di setiap mimpipun tak ayal selalu digerogoti ketakutan itu.
               
                Dari Vietnam ia kesasar ke Tiongkok. Berjumpa dengan seorang tabib muslim. Tak tahan melihatnya yang terbujur sakit di dalam box kulkas. Pertemuannya dengan seorang wanita muslim Tiongkok sedikit demi sedikit merubah pikirannya. Dan dia hijrah ke India untuk bertaubat dan mencari kebenaran. Saat sang tabib memberikannya buku tasawuf.

                Dari situlah ia berniat untuk melakukan perjalanan ke Arab Saudi. Berjalan terus menerus membawa permintaan maaf kemudian menjemput maaf dari ayahnya. Sebenarnya, perjalanan spiritualnya di awali di India.

Mirip Le Grand Voyage?
                2004 silam, muncul film dari Perancis bertemakan Haji. Dimana seorang ayah yang meminta anaknya untuk mengantarnya ke Tanah Suci melaksanakan ibadah haji. Perjalanan ribuan mil membuat pelajaran dan pengalaman berharga anak dan sang ayah dalam menapaki hidup. Aneka ragam kehidupan dari beberapa negara yang dilewati. Namun ending film begitu mengharukan. Sang ayah yang taat harus menghembuskan nafas terakhirnya di Mekkah.

Apakah cerita ini referensi untuk film Haji Backpacker? Ayo kawan-kawan, bisa menontonnya ke bioskop-bioskop di kota Anda.

Ahmad Hakiki

Komentar

Postingan Populer