PERJUANGAN SI KAKEK MENYORONG DAGANGANNYA
Ia berjalan dengan penuh senyum. Wajah kerut tak menjadi alasan buat
mencari nafkah. Walau apa yang dijual entah laku entah tidak.
==========
Sore itu, masih terik. Hiruk
pikuk jalan Sei Belutu Medan yang dilewati kendaraan satu arah satu per satu melintas.
Nampak seorang tua yang berjalan memikul mainan tradisional yang akan dijualnya
ke anak-anak yang notabene modern dan canggih.
Bunyi mainan itu keras terdengar.
Terlihat bunyi itu berasal dari kaleng bulat. Ada roda yang membantu mainan itu
berbunyi. Mainan itu sungguh tradisional. Sungguh diluar akal jika mainan era
lampau itu dijual di tengah-tengah rumah mewah Setia Budi.
Othok-othok namanya, permainan
tradisional yang pernah berjaya dulu. Kini, mungkin sudah terlupa. Mungkin
saja. Sore itu, aku berhenti hanya untuk melihat permainan yang sudah lama tak
aku lihat. Yang membuatku dan temanku, yang memang lewat dari jalan Sei Belutu
itu berniat untuk mendokumentasi permainan itu. bukan hanya permainan itu, tapi
siapa yang menjual permainan itu.
Buyung, 55 tahun lalu lahir di tanah
minang itu, menjejakkan kakinya ke Medan untuk mencari nafkah. Masa hidupnya ia
habiskan membujang. “Tidak berperempuan aku.” Nada rendahnya diikuti dengan
senyuman.
Ia pindahkan Othok-othok yang
banyak itu ke bawah di pinggir aspal. “Mau yang bunyinya keras atau yang kecil
nak?” Tanyanya kepadaku. Aku bilang yang keras kek, untuk keponakanku.
Othok-othok mempunyai suara khasnya, terdengar ucapan ‘othok-othok’
berulang-ulang tergantung sorongan. Mungkin dari bunyi suara kaleng itu
terinspirasi menyebut nama mainan ini.
Othok-othok buatan Kakek Buyung
tingginya sekitar 50 cm. Hanya untuk anak sekitar 6 tahun kebawah. Dari tangan
Kakek Buyung, terlihat Othok kepunyaannya disambung dengan kayu berlingkar
sesuai dengan tinggi badan. Itu menunjukkan ke pembeli bahwa mainan Othok itu tidak
satu ukuran saja. Namun bisa lebih panjang karena ditambah ide kreatif
masing-masing.
Sore itu langit masih membiru.
Kakek Buyung masih semangat mencari Othok pesananku dengan suara keras. Posisi
kami berhadapan. Di pinggir aspal itu, posisinya jongkok. Usia tua berkerut
tapi masih mengumbar senyuman. Salut aku. Pria Perjaka ini menyorong terus
beberapa benda jualannya. Sekali dua kali tatapannya ke langit. Mungkin takut
hujan. Susah untuk pulang.
Rumahnya masih dalam angan-angan.
Mimpi indahnya selalu. Ia hanya menumpang berteduh di rumah saudaranya. Sungguh
baik dan mulia saudaranya itu. Dan nampaknya beruntunglah saudara si punya
rumah yang dihuni Kakek Buyung karena beliau orang yang rajin. Beliau tinggal
di daerah Medan Denai. Dari Denai ke Setia Budi bukan dekat. Butuh lebih dari
satu jam jika naik kendaraan umum atau angkot. “Kakek naik angkot kalau pulang.
Begitu juga jualan. Dimana bumi bisa dipijak, disitulah kakek jualan.” Ungkapnya.
Harga Othok-othok itu Rp.10.000,-
saja. masih banyak dagangannya. Aku berdoa agar dia mendapat rezeki. Walau
hanya untuk dia sendiri. Cukup sedih dan bingung melihatnya tanpa anak dan
istri. Hati bertanya, siapalah yang akan mengurusnya jika sakit. Pria paruh
baya ini hanya tersenyum. Izin pamit meneruskan perjalanannya usai kubeli
mainannya, hanya 2 saja.



Menggugah...
BalasHapus:)