Sungai Deli itu Sungai Bos, Bukan Tempat Sampah
Abang fotoin! bang ikut bang! Bang gonceng! Weee,,ada kapal lewat! Awas
bang ada jaring! Aduh!
Air adalah kehidupan.
Tanpa air, badan akan terasa kering jika bekerja. Bibirpun ikutan mengering
tatkala tak setetespun satu ciptaan Tuhan itu masuk membasahi. Lantas, apa yang
terjadi jika air yang kita butuhkan itu, tercemar?
Di negeri ini katanya,
Air itu dipelihara bahkan dukuasai oleh negara. Itu katanya. Faktanya, sumber air sudekat itu hanya skript di iklan minuman saja.
Air untuk minum contohnya, kita sudah tau masing-masing saat ini negara
mengakui kekurangan. Air tak hanya digunakan untuk minum, tapi
untuk pertanian, hutan, dan semua yang masih berfungsi di negeri ini butuh air.
Apa yang dilakukan selama ini? Padahal negeri ini mempunyai curah hujan yang
tinggi dan negara ini adalah negara dengan laut yang luas. Karena laut yang
luas itu, berjuta tikungan sungai mengelilingi hamparan bumi pertiwi ini.
Sudahlah, saat ini jadikan pertanyaan sebagai tujuan untuk berbenah.
Kota Medan, Punya Sungai Deli
Medan, Kota yang katanya
kota terbesar ketiga di Indonesia ini punya cerita tersendiri. Permasalahan dan
lika-liku hidup setiap hari datang silih berganti. Cuaca panas saat ini
mengurungkan sang hujan yang tak mau turun walau kesedihan banyak melanda
menghiasi pikiran orang-orang Medan. Tak hanya pikiran, ciptaan Tuhan yang tak
berbicara juga sedang dilanda kekeringan. Sungai contohnya.
Di Medan, siapa yang tak
tau dengan sungai Deli. Sungai dengan keindahan luar biasanya. Keindahan yang
mengeluarkan aroma busuk. Keindahan penglihatan yang diwarnai dengan
sampah-sampah ulah manusia tak bermoral. Padahal dulunya punya sejarah besar.
Walau banyak orang yang tidak mempedulikannya.
Sungai Deli dulunya
merupakan jalur dagang internasional, tepatnya pada zaman Kesultanan Deli.
Airnya yang jernih ‘kata orang’ kemudian curah air yang dalam hingga
kapal-kapal pedagang bisa masuk untuk melakukan transaksi di Kota Deli. Jika
aku mengkhayalkannya, begitu jayanya sungai Deli itu. Aku teringat dengan
suasana Venize yang kulihat di televisi dan sekarang kulihat di youtube. Aku
teringat dengan sungai di Brussel di Film PKnya Amiir Khan. Aku juga teringat
dengan kota Kyoto di film Rurouni Kenshin. Betapa jernihnya dan bersihnya
sungai. Perahu-perahu dayung selalu lalu lalang mengangkut manusia.
Dan sekarang, dengan praduga tak bersalah, walau sudah aku ambil hipotesis di setiap tatapanku saat melihat sungai Deli via darat. Kali ini, kesempatan untuk menilai sungai Deli via air, terwujudkan juga. Dan hasilnya…
Perjalanan dari perwujudan Harapan
Perjalanan dimulai dari
Taman Edukasi Avros, daerah Polonia. Mengarungi sungai via perahu karet
bermesin. Hari itu terik. Berjalan dengan sangat berhati-hati. Karena volume
air yang rendah membuat mesin tak semulus harapan. Perjalanan menuju Kampung
Nelayan mengalami banyak terjal. Terjal itu mengantarkan kami ke negeri rumah
di atas air tersebut selama 5 jam. Jalan kami terhenti-henti karena banyak
masalah di sungai ini. Apa itu?
| Jembatan Kereta Api yang direnovasi sehingga perjalanan terhambat. Foto:WLD |
Sampah, hufft.
Sepertinya sudah menjadi tradisi dan hal yang lumrah. Membuang sampah di
sungai. Entah apa pikiran mereka yang sering membuang di sungai yang sejatinya
adalah urat dunia. Bayangkan jika urat anda tersumbat sesuatu. Bagaimana
perjalanan darah anda? Saya pastikan akan ada rasa kesakitan di bagian tubuh.
Begitu juga dengan
sungai Deli. Kesakitan dirasa bagi orang yang sangat membutuhkan sungai ini.
Betapa tidak, coba bayangkan. Ketika hujan tinggi dengan curah air yang tinggi
menghantam kota Medan. Saya pastikan kota Medan akan digenangi air. Ocehan akan
keluar bagi pengendara-pengendara yang mengejar waktu untuk mencari nafkah.
Walau banjir dirasakan nikmat bagi bocah-bocah. Ada kolam renang gratis untuk
bermain mereka.
Belum lagi rumah-rumah
yang ada di pinggiran sungai. Saat sungai Deli menenggelamkan rumah-rumah
mereka, baru mereka sadar betapa bahayanya tinggal di pinggiran sungai. Namun,
karena beban hidup, mau tak mau harus tetap tinggal walaupun resiko tiap tahun
dirasakan.
| Gunung Sampah di pinggiran sungai Deli. Foto:WLD |
Sampah yang ada di
sungai Deli bermacam rupa. Mulai dari sampah rumah tangga seperti plastik,
bungkusan-bungkusan makanan dan minuman, piring-piring, dan lain sebagainya.
Kemudian sampah lainnya seperti kayu, bambu, papan, sterofom, pakaian, popok
bayi dan lain sebagainya. Tak hanya itu, yang parahnya, tabung televisi,
bantal, sampai kasur tergenang di hamparan sungai. Dilihat dari gampangnya
membuang sampah, masyarakat menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan akhir.
Tak hanya itu, masalah
yang dihadapi adalah pohon bambu dan pohon lainnya yang sudah menjalar dan
membesar sehingga melintang di sungai. Kemudian beratnya beban orang yang ada
di perahu karet juga menjadi masalah.
Sampah Sudah, Apa Pemandangan Lain?
Sampah memang yang
paling menonjol menumpuk di sungai ini. Selain bertubi-tubi, baunya yang
menyengat membuat hidung terganggu dan juga warna sungai sebagian berwarna
hitam. Sampah juga berserakan di dasar sungai yang dangkal itu sehingga
menyangkut di kipas mesin yang melambatkan perjalanan di hari terik itu.
Terus berjalan, terus
mendapat pelajaran, terus juga hal baru dalam kehidupan terlihat. Satu per satu
kehidupan sungai yang dilihat di televisi, benar-benar ada dan terlihat oleh
mata telanjang. Kalau God Bless dalam lagunya mengatakan Huma di atas Bukit, di
sungai ada Rumah di bawah Jembatan. Seorang ibu yang sedang menyusui kemudian
masuk ke rumahnya yang hanya punya satu pintu terbuat dari kain. Rumahnya
beratapkan jembatan dan alasnya? Ntahlah, aku kasian dengan anak mereka yang
harus menghirup sampah yang busuk di sekitarnya.
Orang memancing tentu
akan terlihat. Benar, banyak yang menghabiskan akhir pekan itu untuk memancing
ikan yang hidup di dalam sungai. Ada yang tenang melihat kami lewat, ada yang
memaki-maki karena merasa terganggu dengan ombak yang dihasilkan mesin sehingga
ikan-ikan disekitar mata kail si pemancing harus beranjak lari terbirit. Tak
hanya pancingan, orang yang memasang jaring pun ada di sungai ini. Terlihat ia
harus lari dan menjerit memperingati kami karena jalan yang akan kami lalui
terpasang jaring ikan. Terpaksa kami harus mendayung dan mengangkat mesin agar
jaring tak putus.
Walau di siang hari,
anak-anak tak hiraukan teriknya matahari dan terus bermain-main di cokelatnya
air sungai yang dilalui sampah-sampah rumah tangga. Mereka berenang, bermain
dengan bola, mengapung dengan menggunakan tutup box minuman soda. Ketika
melihat perahu kami, mereka sontak mengejar dan berteriak. Abang fotoin! bang ikut bang! Bang gonceng! Weee,,ada kapal lewat!
Awas bang ada jaring! Aduh!.Tampak di wajah mereka jauh dari situasi
kekhawatiran dampak buruk dari sungai yang kotor. Tak ada kepedulian, hanya
bermain dan bermimpi sembari berenang di sungai yang harusnya baik buat bermain
mereka.
Anak-anak bermain,
berenang tanpa menggunakan sehelai pakaian. Pemandangan tanpa helai lainnya
tertampak dan menjadi aktivitas sehari-hari di sepanjang sungai Deli. Mereka
orang dewasa yang mandi di pinggir sungai. ada juga yang membuang ‘hajat’ tanpa
menghiraukan sekitarnya. Hajat itupun yang mewarnai benda-benda terapng di
sepanjang sungai.
Sudah panjang
perjalanan, ada satu penampakan lain yang menarik. Perjalanan Avros-Kampung
Aur-Kantor Walikota Medan-Brayan-Martubung-Labuhan-Belawan-Kampung Nelayan
menjadikan satu pengalaman yang sangat luar biasa. Di sekitar Martubung kalau
tidak salah, ada beberapa gubuk kecil buatan tangan manusia yang menghadap
sungai. Entah apa niat si pembuat. Tentu tidak mungkin niat si pembuat untuk
menjadikan destinasi sungai Deli yang kotor sebagai Scenery pengunjung. Ternyata setelah assessment dan memang
sudah tau sebelumnya ketika melewati gubuk-gubuk tersebut, tepat sekali! Gubuk
itu adalah tempat kawula muda melampiaskan hasratnya. Dari via darat, mungkin
kita tidak nampak, tapi dilihat dari via laut, nampak jelas si pria yang sudah
tergeletak dan seorang wanita pasangannya itu senang ada disebelahnya. Langsung
mereka terpisah sejenak saat perahu kami lewat.
Hati terus bergetar.
Terus bertanya dengan dada berdegup kencang. Sudah lebih dari 4 jam mengarungi
sungai. kemudian adrenalin meningkat saat sungai semakin melebar. Mangrove
mulai terlihat kiri dan kanan. Kapal-kapal nelayan terparkir sejajar dan para
nelayan banyak berlalu lalang. Sudah di ujung hulu sampai juga di lautan Selat
Malaka. Hamparan luas lautan dengan ombak kecil menenangkan hati yang tak sabar
untuk menepi. Ingin saja aku terjun untuk merasakan lautan Belawan yang sudah
17 tahun tak berkunjung kesana. Dermaga kapal-kapal tanker besar pun bersandar
sejajar. Besar sekali. Kali pertama menelusuri lautan dengan perahu karet. Dan
sampai juga di Kampung Nelayan. 5 jam perjalanan tidak terasa karena perjalanan
yang menyenangkan.
Kampung Nelayan, daerah
rumah kayu di atas genangan air. Perahu-perahu hilir mudik bergantian dengan
penumpang dan ikan yang dibawa. Lagu-lagu melayu asal negeri jiran terdengar
kuat sore itu. Di sebuah pos, dimana terpampang plat muasal pos ini berdiri.
Pos berdiri atas pengabdian masyarakat USU. Di pondok itu, kami menyantap
masakan ala pesisir. Ikan, Udang, dan makanan yang dijual 2 gadis cantik yang
menjajakan makanan dari rumah ke rumah.
Pemerintah Harus Serius
Tidak dipungkiri, apapun
masalah di negeri ini, pemerintah harus ikut andil. Bagaimanapun besarnya kerja
keras seseorang, tanpa ada pemerintah sebagai yang punya kuasa, takkan bisa
masalah 100 persen berhasil.
Seperti sungai Deli yang
sudah bisa dikatakan penyakit akut stadium 4 karena kotor akibat sampah dan
ketidakpedulian masyarakat sekitar sungai. Apa yang seharusnya dilakukan
pemerintah?
Bisa dengan
Undang-undang. Sebagaimana kita tau, PP no.35 tahun 1991 yang diterbitkan
Presiden Soeharto sejatinya bisa membuat masyarakat mengerti pentingnya sungai.
Di peraturan tersebut, sudah dijelaskan larangan mendirikan bangunan ilegal
tanpa izin pemerintah, kemudian yang paling fatal adalah membuang sampah. Di
peraturan tersebut sudah dicantumkan kata ‘Pidana’ bagi yang melanggar PP
tersebut seperti mendirikan bangunan, membuang sampah, dan lainnya. Dan
seharusnya, PP ini haruslah dikuatkan dengan Perda. Untuk sungai Deli, Walikota
harus membuat komitmen untuk mengembalikan sungai seperti jaman dahulunya, saat
masa jaya kesultanan Deli. Mengingat sungai Deli secara luas ada di konstituen
Medan.
Namun faktanya, bisa
kita lihat sendiri. Sudah berpuluh tahun ada aksi pembiaran dan masa-masa
kehancuran sungai. ini menimbulkan banyak pertanyaan. Mengapa ada indikasi pembiaran
dari Pemerintah yang sejatinya punya wewenang dalam hal ini? Apakah
ketidakpudulian pemerintah menyebabkan sifat masyarakatnya semakin sembrawut?
Entahlah, saat ini, memang pergerakan yang bisa menyadarkan.
Save Our Rivers Consortium, Harapan untuk Perubahan Sungai Deli yang Lebih
Baik
| Logo SORC. Foto:WLD |
Pergerakan memang
diperlukan untuk menyadarkan orang-orang yang duduk di kursi empuk. Pergerakan
adalah jalan terakhir saat penguasa menutup mata dengan sekitar. Pergerakan
terjadi saat penguasa tak serta merta melibatkan orang-orang yang peduli untuk
ambil alih perubahan.
Save Our Rivers
Consortium, forum yang lahir dari keresahan sungai Deli yang semakin hari
semakin kelam. Save Our Rivers Consortium adalah kita. Kita yang mau membuat
sungai Deli lebih baik.
Save Our Rivers
Consortium eksis di Taman Edukasi Avros, Medan. Di tempat inilah semua ide,
harapan, tindakan, dan kepedulian menjadi satu demi sungai Deli yang lebih
baik. Tampak orang-orang yang punya tekad dan semangat agar mereka dan para
penerus mau bersama-sama melindungi sungai Deli dari satu tempat dengan banyak
bencana.
Dari sinilah, aku dan
kawan-kawan, dari tempat berbeda, dikumpulkan menjadi satu dengan satu visi dan
satu tujuan. Senior-senior yang punya semangat dan perjuangan membuat kami
punya harapan untuk bersama mereka berjuang dengan kemampuan masing-masing.
Dari sinilah, kami
diberi kesempatan melihat, mengamati, dan menulis bagaimana kehidupan di sungai
yang akan kita selamatkan ini. Mereka membuat kami ingin belajar lebih banyak
lagi dan bersama-sama belajar bagaimana nantinya kita selamatkan sungai ini. (Ahmad Hakiki).
| Tim Tapak Tilas Avros - Kampung Nelayan. |
Nantikan dan Hadirilah!!! Sungai Deli Festival 2015 di Taman Edukasi Avros
Medan. 24-26 April 2015. Ayo Selamatkan Sungai Deli!!!!



kalau mau ikutan 'piknik' sungai delinya harus gimana yaa?
BalasHapusboleh mbak,,main ja dulu ke tman edukasi avros,,di jalan avros, Medan.
BalasHapus