Aku, Jurnalis, dan Old Trafford

“Mak, beliin sepatu bola!”. Ya begitulah kemerengekanku saat harapan untuk menjadi pesepakbola handal. Mamakku berjanji, kalau aku mendapat rangking lagi, dia akan memasukkanku ke salah satu sekolah sepakbola ternama di Medan.

Perlu konkawan ketahui, geliat nafsu sepakbolaku sudah tertanam sejak aku masih ingusan. Khayalan tingkat tinggi terjulam ketika melihat pemain andalanku dulu, Ryan Giggs. Ya, memang aku adalah penggila Manchester United sedari dulu. Dan pemain kesukaanku adalah Ryan Giggs. Bukan sembarang aku menyukainya, yang pertama karena dia kidal alias menggunakan kaki kiri sebagai tugas utama menendang. Sama denganku.

Kedua, nomor punggung sebelas adalah nomor kesukaanku. Karena aku lahir di tanggal 11. Aku mempercayai bahwa dewi fortuna hidupku ada di nomor 11. Disaat itulah keinginanku makin bertambah kuat. Saat aku berhasil direkrut Manchester United di tahun 2005. Disaat PS 2 sedang menghantui anak-anak seumuranku untuk selalu masuk ke rental-rental. Ya, aku masuk ke Manchester United saat negosiasi transfer pada saat Manchester United masuk ke divisi 1 setelah menjuarai divisi 2 Master League Winning Eleven 9. Dan akhirnya Manchester United membeliku dengan harga sangat mahal, 5000 untuk pemain editan sepertiku. Ya,keinginanku masuk Manchester United terwujud, walau masih di dunia permainan. Sampai-sampai aku relakan Giggs mengganti nomornya menjadi nomor 9 untuk ditukarkan kepadaku yang menyukai nomor sebelas. Maaf pak Giggs.
Aku lewati masa-masaku dengan banyak harapan. Makin lama keinginanku menjadi pesepakbola juga sirna. Kini aku sudah berada di fase mahasiswa. Walau telat, 2 tahun tanpa status setelah lulus dari aliyah kulalui dengan banyak pengalaman. Aku kumpulkan lagi semangat-semangat untuk berpendidikan dan meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi.
setelah melihatku masuk ke zona keterpurukan baik dari segi psikologis sampai pada penghasilan yang dibawah rata-rata, aku pilih berkuliah. Aku memilih IAIN SU sebagai tempat belajarku. Dan Alhamdulillah, aku masuk ke Fakultas Tarbiyah tepatnya jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
Aku bersepakat dengan tubuhku dan jiwaku untuk mencari hal lebih di kampus. Mencari suasana dimana aku tidak dianggap sebagai mahasiswa ‘kupu-kupu’ walau hari-hariku sudah baik. Kali ini aku memilih organisasi olahraga di IAIN. Organisasi ini membuka lowongan buat para mahasiswa yang mempunyai kemampuan bermain sepak bola. Ikutlah aku dan seorang temanku untuk beradu kemampuan dengan mahasiswa IAIN lainnya. Aku memilih menjadi kiper, karena memang itu kelebihanku dan memang staminaku untuk bermain sudah berkurang.  Ditambah lagi memang persaingan untuk kiper lebih menjanjikan. Menjanjikan untuk paling banyak disiksanya.
Tapi apalah daya, sebulan lamanya aku mengikuti seleksi tersebut, tak kudengar lagi kabar selanjutnya. Hipotesisku mengatakan, pasti ada apa-apanya. Dan ternyata benar, penyeleksian itu hanya topeng belaka. Dari dulu sampai sekarang, pemain yang terlihat itu-itu saja. ada indikasi nepotisme didalamnya. Padahal kalau ditimbang, keahlianku di bawah mistar gawang lebih menjanjikan daripada sainganku yang aku lihat biasa-biasa saja. Lagi-lagi hilang geliatku untuk bermain bersama Giggs.
Untuk menghilangkan kejenuhan dan rasa ngenes, aku memilih masuk ke Dinamika. Sebuah organisasi yang bergelut di bidang jurnalis. Aku diterima di Dinamika dengan mengikuti ujian terlebih dahulu.
Setelah 3 bulan lamanya mengikuti magang, aku resmi menjadi salah satu bagian dari mereka. Aku dipercaya menjadi reporter. Akupun bertanya sejenak. Awalnya aku tidak bermaksud untuk bertahan lama. Namun, aku sampai saat ini masih ada disini. Chemistry? Entahlah.
Setiap hela kehidupan, pasti muncul sebuah hal yang baru yang dirasa manusia tepat untuk bersemayam disana. Itu juga yang mungkin membuatku merasa nyaman berada disini. Setelah hampir setahun melewati hari sebagai seorang wartawan. Aku melewati momen yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan. Dari mewancarai seorang wakil Dubes Amerika dengan memakai bahasa Inggris, kemudian berhasil foto bareng dengan Eross Chandra, berbagi rasa dengan Ustadz Solmed, wawancara eksklusif dengan Rektor IAIN, masuk ke dalam ruangan dingin Kasat Reskrim Polresta Medan dan membicarakan hal yang sensi, masalah pelacuran. Belum lagi semakin bertambahnya keintelektualan memecahkan masalah.
Perlu kita sadari, perjalanan hidup kita mempunyai seribu pandangan yang menakjubkan. Apa yang tidak kita sadari, dapat kita rasakan. Apa yang kita harapkan, terkadang bisa didapatkan melalui cara yang tidak kita tafsirkan sebelumnya. begitu juga aku. Tidak semua orang bisa mendapatkan momen seperti ini. Ini juga yang membuat aku merasa nyaman untuk berlama-lama hidup di lingkungan jurnalis. Dinamika telah menciptakan suasana baru di kehidupanku. Lalu, apa hubungannya aku, jurnalis, dan Old Trafford?
Seiring bertambahnya waktu dan usia dan kenyamananku menjadi seorang jurnalis kampus, aku hampir melupakan cita-citaku. Menebus Old Trafford.  Keinginanku untuk menjadi pemain bola profesional pasti tidak akan bisa kuraih lagi. Ditambah berat badanku yang tak proporsional lagi. Namun, keinginan itu tiba-tiba muncul. Dan terus bermimpi di hari-hari selanjutnya. Aku menemukan sebuah ide brilian. Aku mencoba untuk mengaitkan kegiatanku sekarang menjadi seorang jurnalis dengan cita-cita untuk menonton Manchester United di Old Trafford.
Aku mencoba mengganti haluan, dari reporter investigatif dan seremonial menjadi reporter olahraga. Aku cari-cari di sekitaran kampus kegiatan olahraga. Dan, yang kudapatkan adalah...ya, lagi-lagi berita investigasi. Awalnya bermain bola, tapi judulnya, “sekelompok orang membuat ricuh perhelatan turnamen futsal.” Kemudian “hadiah turnamen sepak bola tidak jelas”. Sampai-sampai aku diincar oleh sekelompok orang. Ditambah lagi orang-orang yang terkena masalah ini adalah temanku. Betapa susah mencari berita tentang olahraga di kampus. Alasan yang pertama adalah karena memang disaat ada perhelatan, akunya entah kemana. Ada juga disaat aku ada disana, aku jadi peserta, sehingga lupa membuatnya. Ada lagi disaat memang tepat disana, yang terjadi adalah kericuhan. Lagi-lagi aku kembali menjadi reporter biasa, reporter investigasi dan seremonial.
Ternyata menciptakan mimpi tidak mudah seperti membuat mimpi. Merencanakan sebuah mimpi yang sudah ditata dengan rapi, namun lagi-lagi fakta tak memenuhi. Namun, momen itu akan aku tunggu selama aku masih bertugas menjadi seorang jurnalis. Aku percaya akan ada waktu untuk mewujudkannya. Nelson Mandela pernah berkata "Jangan nilai saya hanya dari kesuksesan. Nilai saya juga dari berapa kali saya gagal dan bagaimana caranya untuk bisa bangkit lagi."
Karena menurut penafsiran analogi kreatifku, ada beberapa cara agar bisa melihat Rooney cs berseragam merah dengan yel-yel ‘GGMU’ di Old Trafford. Ada anak dari CEO PT ternama dengan uangnya, memenangkan undian berhadiah salah satu produk komersial, mahasiswa yang mendapat beasiswa di The University of Manchester, atau dalam masa magang di Muslim Youth Foundation di sudut kota Manchester. Pilihan ini juga bisa dilakukan apapun yang kamu inginkan. Jalan ke Roma tidak hanya satu kalau dari Venesia. Kalau dari Indonesia memang Cuma dua, naik Pesawat yang cepat atau naik kapal laut berbulan-bulan.
Nah, harapanku, aku bisa ke sana dengan membawa nama salah satu majalah olahraga ternama di Indonesia, mengemban tugas sebagai seorang jurnalis. Kala itu Manchester United menghadapi musuh bebuyutannya sesama kota, Manchester City. Tapi, awas. Jauhi niat berangkat ke Old Trafford karena nyinggah selama studi banding DPR RI.
Hmmm,,, ingat ya,,catatan ini belum selesai. Ini hanya catatan sementara. Catatan sebagai awal dar semangat membuat sebuah karya. Catatan yang selalu menjadi penyemangat untuk bertindak lebih lantang. Catatan ini akan selesai jika aku berhasil menjejakkan kakiku di halaman Old Trafford yang terletak di luar Kota Manchester tepatnya di kota Borough Trafford dan menginap di Hotel Premier Manchester di sebelah stadion Teathre of Dream. Ini hanyalah catatan penyemangat yang akan kutempelkan di saku kemejaku. Agar disaat aku bertugas sebagai jurnalis, aku akan keluarkan catatan ini dan langsung berlari mengejar impian untuk menjadi seorang jurnalis olahraga yang akan meliput khusus di stadion kebanggaan Manchunian itu.
Aku telah menceritakan kisahku, kisah jurnalis, dan saatnya menunggu Old Trafford. Aku harus menyiapkan diri, melanjutkan arah, mengejar mimpi, kemudian mencatat sebuah tulisan, “Aku sudah di Old Trafford sebagai Jurnalis.” J


 Ahmad Hakiki

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer