APePeBe MAKIN EKSIS SEBAGAI RELAWAN

Alley, Relawan APePeBe sedang menyiapkan Makanan Tambahan bagi
pengungsi (2/2014)
Ahmad Hakiki

APePeBe, Aliansi Pemuda Peduli Bencana adalah salah satu aliansi yang dibentuk dari beberapa komunitas di Kota Medan. Berawal dari perkumpulan biasa, kemudian mempunyai ide yang baik untuk membuat aliansi pemuda yang peduli dengan bencana. Karena saat itu, Gunung Sinabung mengeluarkan awan panasnya lagi dan membumihanguskan beberapa desa yang dekat dengan gunung tersebut sehingga warga yang tinggal di radius 5 KM dari gunung untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sebelumnya tahun 2010 Sinabung sebenarnya telah erupsi dan membuat warga mengungsi. Namun setelah dirasa aman, mereka kembali ke desa masing-masing. Namun di bulan Oktober 2013, Erupsi terjadi lagi dari Gunung Sinabung sehingga pada tanggal 3 November 2013, Badan Vulkanologi mengeluarkan status ‘Awas’ sehingga pemerintah mengeluarkan instruksi untuk mengeluarkan warga dari radius 5 KM untuk mengungsi.
Kemudian pada saat itu, Tim dari Komunitas Tamfaran, Garis Terlarang dan The Bamboes menjadi pilar utama terbentuknya aliansi ini. sampai akhirnya, LPM Dinamika menjadi salah satu mitra yang tergabung di dalam APePeBe setelah salah satu anggota LPM Dinamika, Hakiki, juga salah satu anggota Tamfaran. LPM Dinamika mempunyai kontribusi untuk menyebarkan berita dan dokumentasi APePeBe di posko pengungsian. Dan posko yang menjadi tempat tim APePeBe melakukan tugas mulia sebagai relawan adalah Posko Pengungsian di Lapangan Futsal Champion Artha Desa Sumbul Kecamatan Kabanjahe Kapubaten Karo.
Sejauh ini, Tim APePeBe mempunyai program yang telah dilalui menjadi relawan di posko pengungsian. Di tempat itu pula sudah dilihat beberapa pemandangan yang tidak pernah terlihat sebelumnya. baik kebahagiaan, kesedihan, dan lika-liku kehidupan para pengungsi yang membuat tim semakin gentol untuk terus kembali dan berpartisipasi membantu keseharian warga di pengungsian, termasuk anak-anak.
Kepenatan di pengungsian mengakibatkan tim untuk membuat sebuah program berbentuk psikososial kepada anak-anak di posko pengungsian. Dari bermain, membuat film, bahkan sampai bermain dengan origami. Selain itu, program yang disuguhkan APePeBe adalah program makanan tambahan untuk para pengungsi. Makanan tambahan yang dimaksud seperti bubur kacang hijau, kolak pisang, agar-agar, es buah, bandrek dan lainnya. Tujuan dibuatnya makanan tambahan adalah untuk menambah gizi para pengungsi yang selama ini memakan makanan pokok yang kandungan gizinya masih minim untuk para pengungsi.
Sebelumnya, APePeBe hanya melakukan penggalangan bantuan kemudian diberikan kepada panitia dan selanjutnya pulang. Berbeda kali ini, APePeBe sudah mempunyai program yang baik dan eksis sebagai relawan pemuda yang peduli dengan korban bencana. Sampai sejauh ini, APePeBe sudah melakukan 3 program dan berangkat dari Medan menuju posko di Kabanjahe untuk melaksanakan program yang sudah dirancang.
Program pertama, Tim berangkat dengan mobil yang didalamnya adalah tim APePeBe yang dibentuk dari beberapa komunitas di Medan menuju posko kamis malam tanggal 30 Januari 2013. Program pertama adalah pembagian perlengkapan mandi, hibah yang diberikan dari salah satu NGO di Medan sebesar Rp.10.000.000,-. Program lainnya adalah bermain bersama anak-anak sekaligus membuat Film yang dibuat oleh anak-anak pengungsi kemudian di edit oleh tim. Selain itu, tim menghibur para pengungsi dengan menonton hasil film dari anak-anak pengungsi dan menghibur pengungsi dengan bernyanyi. Ada satu program yang akhirnya dibatalkan, yaitu membawa anak-anak ke desa di radius 5 KM dari Gunung Sinabung untuk membuat film dokumenter. Program tersebut gagal karena Sinabung mengeluarkan erupsi yang sangat dahsyat. Dan erupsi itu juga yang menyebabkan 16 orang meninggal dunia. Kemudian Tim dokumentasi yang terdiri dari Iwan, Chandra, dan 2 orang anggota yang juga merupakan kru LPM Dinamika, Rizky dan Hakiki menuju Sinabung dengan radius 3 KM. Dari desa Brasitepu, sampai ke Lau Kawar dijelajahi hanya untuk mencari data dan dokumentasi APePeBe. Hal yang didapatkan adalah desa ‘mati’ karena tak berpenghuni sampai pemandangan erupsi yang begitu dahsyat dan tertangkap kamera sebagai dokumentasi. Beruntung, tim pulang dengan selamat tanpa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. APePeBe menyelesaikan program pertamanya dan pulang kembali pada hari minggu.
Program selanjutnya, tim kembali terjun ke posko pekan selanjutnya yakni tanggal 6 sampai 9 Februari 2014. Kali ini program makanan tambahan dicetuskan. Program ini bertujuan untuk menambah gizi para pengungsi. Kali ini, Beni sebagai Koordinator Logistik merancang beberapa makanan tambahan. Kali ini, Bubur kacang hijau dan agar-agar sebagai makanan tambahan yang akan dibuat di posko pengungsian. Tim pertama yang berangkat adalah Iwan dan Dani, dari The Bamboes menuju posko untuk melakukan sosialisasi dan dokumentasi awal. Kemudian hari jumatnya Lugas dan Rizky berangkat ke posko. Rizky adalah koordinator Dokumentasi APePeBe. Kebetulan di hari jumat tersebut, Dorce Gamalama, Dewi Perssik, Amel, dan artis lainnya berkunjung untuk menghibur para pengungsi di posko pengungsi Lapangan Futsal Champion, tempat para relawan APePeBe bermukim untuk membantu para pengungsi. Kemudian tim terakhir, Alley, Beni, dan Hakiki berangkat dengan membawa seluruh logistik yang akan dimasak dan dibagikan kepada para pengungsi. Program makanan tambahan ini disambut dengan baik oleh panitia dan pengungsi sangat menikmati sekali apa yang dibuat oleh Tim APePEBe. Program ini didukung oleh bantuan dana dari beberapa donatur yang peduli dengan korban bencana Sinabung.
Dan program selanjutnya, tim masih melanjutkan program makanan tambahan. Kali ini, APePeBe merekrut Adith, salah seorang yang ahli di bidang gizi yang juga salah satu fotografer terkenal di Kota Medan. Tim kemudian terjun kembali di minggu selanjutnya tepatnya di hari jumat, tanggal 14 Februari 2014. Tim pertama membawa logistik menuju posko pengungsian. Kali ini program makanan tambahan yang akan dimasak adalah bubur pulut, kolak pisang, es buah, bandrek, dan lain sebagainya yang dibagikan kepada para pengungsi. Di hari minggunya, tim bermain bersama anak-anak membuat bentuk dari kertas origami. Betapa bahagia dan seriusnya mereka membentuknya walau sebagian juga ‘frustasi’ sampai-sampai membuang kertas tersebut. kebahagiaan berhenti sejenak karena salah seorang pengungsi, bapak Ramli Ginting, meninggal dunia di rumah sakit sehingga sebagian para pengungsi turut membantu proses pemakaman terkahir almarhum di desa Sigarang-garang.
Seluruh program ini tercatat baik sebagai asessment dan laporan bahwa APePeBe adalah satu dari beberapa tim yang peduli dengan korban bencana. LPM Dinamika sebagai salah satu lembaga yang tergabung dalam APePeBe juga dengan rutin menyebarkan dan membuat berita tentang situasi korban erupsi Sinabung memalui berita-berita yang terbit di situs LPM Dinamika. Mudah-mudahan dengan disebarnya berita ini, maka kawan-kawan lain juga tumbuh kepeduliannya dengan segala macam peringatan Tuhan di dunia ini, khususnya yang terjadi di bumi nusantara kita. Apalagi sekarang kita lihat hampir setiap bulan terjadi bencana yang sangat dahsyat. Maka itu, kita harus selalu peduli dan ‘Eksis’ sebagai manusia yang mempunyai hati mulia untuk saling membantu.

Tim yang masih Eksis dalam tugas mulia ini adalah The Bamboes, Tamfaran, Cakrawalah Merah, LPM Dinamika IAIN SU, siswi SMKN 9 Medan, dan banyak lagi. mudah-mudahan selalu ‘Eksis’.

Komentar

Postingan Populer