Hikayat Anak Pak Ngah (Lanjutan)

“Jiwa dan Raga buktikanlah pada Nusa Bangsa, Supaya negara maju jaya aman merdeka”.(Bahtera Merdeka-Ahmad Jaiz).
Pekikan itu sangat berarti kawan, gebrakan kemilau cipta adalah pemuda. Sosok pelindung ibu pertiwi dan ahli pembaharu adalah Pemuda. Tak pelak itu yang harus dijunjung tinggi. Memajukan pemuda pemudi adalah peluru tajam bagi musuh bangsa. Junjungan Alam Baginda Rasul mempunyai garda terdepan adalah para pemuda. Hang tuah sosok pemuda perkasa. Ditemani 3 sahabat lain yang mempertahankan pusaka tanah melayu.
Tampah mak inang warnanya putih
Membawa Harum sedap bau melati
Wahai nian pemuda pemudi
Elok rupa cerdik budi pekerti

Bangsa ni masih haus akan cerdik elok para pemuda. Konon, negara ini memiliki banyak pemuda. Tapi, mengapa si tua tak memperdulikan cita-cita mereka. Yang ada budaya meneruskan kebathilan kawan. Pemuda disuguhkan air liur nikmat duniawi. Apalah yang didapat dari TV itu. Cerita nak cari harta semua. Orang kaya tambah kaya. Orang miskin dipijak. Pemuda hanyut dalam buaian cinta dunia.  Ini faktanya. “Dulu menjadi demontran, sekarang jadi musuh demonstran, dulu anti korupsi, sekarang jadi tersangka korupsi.” (Jemie Simatupang dalam tulisannya Menjadi tua dan Menyebalkan-kompasiana.com). Lagi-lagi pemuda ikuti arus si tua itu.


Sudahlah, takkan habis lintah di darat. Takkan hilang nanah di tumpuan. Kalau masalah ini terus dilestarikan. Hancur badan ditanah bunda. Pemuda-pemudi mesti menaklukkan,jangan ditaklukkan.
Masih ada air buat padi. Masih panjang cita tuk menjadi.

Kail pancing masih terapung
Menunggu molek si ikan puput
Badaya bangsa tetap dijunjung
Kemenangan utuh mesti dijemput (secuil gurindam Ahmad Hakiki).

**

Anak melayu itu bercita-cita nak jadi pejuang bangsa. Khayalnya berdiri tegak menatap laut dari semenanjung Batu Bara. Merubah dunia menjadi perkasa. Tak disangka, dibalik wajah buruknya. Tersirat sifat karya.(pekikan Bang Selamat dalam Film Sumpah Orang Minyak-1958). Mestinya anak ini menjadi dambaan bangsa. Namun, kehidupan malah membantingnya. Luluh lantah mencari hidup. Namun agama tertancap tajam. Kalaulah agama hilang. Rusak insan dimakan dunia.

Anak melayu itu sembari duduk di tepi panton lautan Batu Bara. Ditulisnya cita-citanya. Tak tertengok hari kian petang. Asyik beliau dengan penanya. Surat cinta untuk Tuhan. Pengharapan menuju kebebasan. Bebas dari sakitnya mata oleh polusi itu. Sakitnya hati melihat pak tua itu. Berfoya-foya dari uang si anak ingusan. Dipenjarapun makin girang. Tak adil hukum. Si tua 5 tahun karena menghabiskan cita-cita 100 anak negeri. Andong minah dipenjara mencuri pepaya. Padahal Andong lapar sangat. Buah ciptaan Tuhanpun tak bisa dipegang. Habis sudah negeri dari orang berbudi. Celaka badan pun menanti. Tuhan sajalah yang membalas kelak.jangan sampai kita yang rusak.

**

Dua bulan lagi nak ikut ujian. Anak melayu itu gigih sepanjang malam. Belajar, bekerja pagi dan petang. Nak jadi pejuang bangsa. Namun hari ini berkunjunglah dia ke negeri Batu Bara. Negeri Bertuah katanya. Cantik molek, semua orang tau (Zulham Efendi- Batubara Kota Bertuah). Melihat laut di Ranah Melayu. Berharap dapat kilauan semerbak kecerahan. Pulang membawa keberkahan.

Namun, malang pemuda disini. Anak dari Perusahaan besar itu. Menghabiskan nyawanya di jalan ini.hanya 16 KM panjang jalan dibatasi laut. Mati dia sia-sia. Padahal pemuda ini seharusnya menciptakan wahana belajar yang indah. Sia umur termakan kawan. Salah kawan salah asuhan. Namun pribadi jualah yang menentukan. Muda-mudi pencipta Alumunium ini berugal-ugalan setiap malam. Negeri indah ini kekurangan pemuda jadinya. Bahkan ada yang sampai terbelah dua. Masya Allah. Teringat dengan Komunitas Kriminal di kota sana. Pemuda lagi jadi biangnya. Belum kasus Bullying merebak. Lagi-lagi pemuda. Takkan subur jikalau pemuda terus bergentayangan. Nak jadi apa negara ini. Lagi-lagi si tua diam melongok. Masih ribut perkara tong kosong. Lihat saja TV itu. Bukan bagaimana cari solusi. Tapi malah petantang-petenteng membela kerusakan.

**

Hari sudah semakin larut. Mau buka puasa. Ini hari kamis. Anak melayu girang sambil berlari mengejar itik beriring. Keringat di wajah hitam molek. Duduk disana Wak Dolah memainkan serulingnya.  Mau bersyair dia. Menasehati anaknya yang masih budak itu. Berharap nak jadi dokter. Wak Doleh sampai sekarang masih tak bisa berjalan. Mahal biaya operasi. Wak Dolah muram wajah.

Anak Melayu itu lagi-lagi berkhayal. Nak memperjuangkan Bangsa. Bagaimana nak gratiskan semua. Rakyat tidak Bodoh, Rakyat tidak Lapar, Rakyat Tidak Sakit (Petuah Datuk Syamsul Arifin). Lagi-lagi berkhayal dia. Nak perjuangkan bangsa. Kasian Wak Dolah. Sudah 20 tahun dia tak bisa jalan. Anaknya mati di Jalan itu. Mengebut dia dengan kawannya. Tak terlihat Truk pengangkat sawit di depan. Itulah fakta di jalan itu. Warga setempat sudah biasa. Tontonan kurang lebih sebulan sekali.
Wak dolah kini tinggal dengan anak wanita idamannya. Istrinya pergi ke negeri seberang. Mencari makan. Di negeri ini susah katanya.

Pak Ngah selalu berpesan. “Jagalah sifat Masa Ramaja..masa Remaja..Binalah supaya sempurna” (Lirik lagu Gunung Banang-R.Ismail). betapa mulia masa pemuda. Ingatlah kawan. Kita masih lunak dan masih elok buat menuntuk ilmu. dan bersegeralah menumpas ketidaksemenaan. Hari ini kita berdoa kepada Sang Pencipta. Mudah-mudahan kita menjadi pengganti si tua itu. Dan merubah negeri ini tuk Takut akan Penciptanya. Dan menjauhi segala laranganNya. Hapus dan didik negeri kita.

**

Anak Melayu itu gigih nian. Namun, mengapa masih menangis meratapi Kegagalan ketika melihat Koran yang dibeli dari Anak Ingusan itu?apa cerita dibalik itu?
(Bersambung)

Ahmad Hakiki

Komentar

Postingan Populer