KELAS HERITAGE LONSUM TEMPOE DOELOE: MENGENAL SEJARAH MEDAN

Narasumber: Armyta Surbakti (kiri) dan Erond Damanik (tengah), dan
Perwakilan dari Lonsum (kanan).
Ahmad Hakiki

Jika pergi ke suatu desa, pastilah yang diharapkan suasana indah, asri dan pemandangan alam yang eksotis. Belum lagi menjelajahi wisata bahari yang kaya dengan sejuta karang, ikan yang berenang, lautnya biru ditemani ombak nyiur, sampai ke pulau yang meninggalkan keindahan Sang Penciptanya. Namun bagaimana dengan suasana di Kota? Apa yang biasa dicari oleh para turis atau penikmat wisata? Tentu tak lain adalah bangunan tua yang bersejarahnya. Bangunan tua yang dibuat kokoh tak luput dimakan zaman adalah pemandangan yang indah jika berwisata ke salah satu kota. Seperti Medan misalnya. Ibu Kota Sumatera Utara ini banyak meninggalkan gedung-gedung bersejarah yang banyak berdiri sebagai saksi bahwa Medan adalah salah satu kota besar di Indonesia. Peninggalan Belanda, Kesultanan Deli, peninggalan etnis Keling dan Tionghoa masih bisa kita lihat dan menjadi penawaran besar bagi orang luar yang ingin bertamasya di Kota Medan. Namun miris, ketika sebagian gedung itu tak terawat, bahkan sudah hampir roboh. Banyak juga yang sudah digantikan posisinya sebagai salah satu aset yang menjadi pemeliharaan negara yang harus dilestarikan. Dan ada juga yang tertutup iklan-iklan besar atau baliho sehingga hilang arwahnya sebagai wisata kota.


Ada beberapa cara yang harus dilakukan untuk melestarikan sejarah kota seperti kekhasannya sebuah kota yang terletak dari bangunan-bangunan tua bersejarahnya. Salah satunya adalah memproklamirkan seperti yang termaktub dalam undang-undang no.5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya. Dalam pasal 13 sampai 18 dituliskan bahwa pemeliharaan dan pengelolaan adalah urusan negara dan masyarat, kelompok, serta perorangan berperan serta dalam pengelolaan benda cagar budaya. Dalam bahasa Inggris, disebut Heritage.

Dalam kamus yang ditulis oleh John M Echols dan Hassan Shadily, Heritage berarti warisan atau pusaka. Sedangkan dalam kamus Oxford, Heritage ditulis sebagai sejarah, tradisi, dan nilai-nilai yang dimiliki suatu bangsa atau negara selama bertahun-tahun dan diangap sebagai bagian penting dari karakter mereka. Sedangkan menurut UNESCO, lembaga PBB yang menaungi pendidikan dan kebudayaan dunia, mengartikan Heritage sebagai sebagai warisan (budaya) masa lalu, apa yang saat ini dijalani manusia, dan apa yang diteruskan kepada generasi mendatang. Intinya, Heritage adalah usaha untuk menjaga, melindungi, melestarikan, dan mempromosikan warisan budaya masa lalu dan menjadikannya aset kota yang bermanfaat untuk masa depan.

Memang, semestinya semua lini harus saling berkonstribusi dalam menjaga dan melestarikannya. Seperti para pemuda pemudi satu ini. Medan Heritage. Salah satu wadah dari beberapa komunitas di Medan yang peduli dengan nyawa bangunan tua di Medan. Kali ini, Medan Heritage mengadakan acara yang bertajuk “Kelas Heritage, Cerita Lonsum Tempoe Doeloe”. Tajuk ini menjelaskan tentang sejarah gedung London Sumatra (Lonsum) dari awal pembangunan sampai sekarang.

Kelas Heritage

Kegiatan dimulai pukul 15.00 WIB. kegiatan dilaksanakan di lantai 5, ruang paling atas gedung Lonsum, atau rooftop. Dari luar saja sudah tampak kekhasan arsitektur bergaya lama dari gedung ini. Yang membangun gedung Lonsum adalah perusahaan dari Inggris, yakni H & C ("Harrisons & Crosfield" company). Harrisons & Crosfield (H&C) didirikan oleh Trio Daniel Harrison, Smith Harrison and Joseph Crosfield pada tahun 1844 di Liverpool dan bergelut di bidang importir teh dan kopi. Pada akhir abad ke 19 sebelum melonjaknya harga karet semasa Perang Dunia kedua, H&C mulai tertarik untuk melakukan investasi usaha perkebunan karet dan mengoperasikan beberapa perkebunan di Malaysia, Srilangka, Sumatra, Papua dan India Selatan.
Menurut Erond L. Damanik, Dosen Unimed ini dalam kelas Heritage di Aula Lonsum mengatakan bahwa sebelum berdirinya bangunan-bangunan, Medan hanyalah hutan rawa dan kampung yang sedikit penghuninya. Pusat keramaian di Sumatera Timur terletak di Deli (sekarang Medan Labuhan). Seorang pengusaha Belanda, Jacob Nienhuys, adalah orang yang melihat potensi tembakau di Deli menjadi sebuah komoditi yang menjanjikan. Akhirnya ialah yang membuat tembakau Deli menjadi terkenal karena kualitasnya dan masuk ke pasar internasional khususnya di Amsterdan dan Bremen. Kemudian dia menjadikan perusahaan De Deli Maatschappij. “Sehingga perusahaan tersebut menjadi perusahaan terbesar di Deli.” Ungkap beliau. (8/3)


Suasana Kelas Heritage
Kemudian karena daerah Deli sangat rentan dengan banjir, sangat tidak mungkin menjadikan Deli sebagai sebuah kota untuk kegiatan ekonomi Belanda pada saat itu. Walau Deli adalah tempat istana Sultan Deli berada dan banyak bangunan sejarah yang masih ada sekarang kita lihat seperti Mesjid Osmani, Kuil Dewi Kwan Im, namun akhirnya Nienhuys, mengambil kebijakan untuk membuat sebuah tempat sebagai tempat kegiatan ekonomi. Dan terpilihlah Medan pada saat itu. Bangunan pertama yang dibangun adalah gedung  De Deli Maatschappij di belakang Gedung Capital Building sekarang. Kemudian karena semakin bertambah penghuni dan juga menjadi tempat kegiatan ekonomi berlangsung, Medan menjadi ibukota Keresidenan Sumatra Timur. Sebelumnya ibukota Sumatera Timur terletak di Bengkalis, Riau.

Kemudian pembicara kedua, Asmyta Surbakti, Dosen Fakultas Sastra di USU mengatakan bahwa heritage adalah sebuah kesempatan kita untuk lebih memanfaatkan pelestariannya. Karena hari ini manusia sudah memasuki peradaban yang keempat. “Pertama adalah peradaban bertani, kemudian industri, sampai ke teknologi, dan sekarang adalah dunia ekonomi kreatif.” Ungkapnya. (8/3)

                Asmyta mengajak kepada peserta yang hadir untuk menyongsong Asean Economic Community 2015 dengan memperkenalkan nilai-nilai heritage yang ada di Medan khususnya. Kemudian pemerintah, swasta, dan masyarakat serta pemuda khususnya sama-sama peduli dengan menjaga dan mengawasi bangunan-bangunan bersejarah di kota Medan. Karena sangat sayang sekali melihat Lapangan Merdeka yang sudah dikontrak dengan swasta beberapa lahannya. Seperti menara kembar yang ada di dekat rumah sakit Malahayati, satu sudah ambruk, tinggal satu lagi. Bahkan ada bangunan yang tertutupi baliho atau papan iklan besar. “berangkali semakin lama dengan sengaja mereka bersembunyi untuk menghancurkannya dan tanahnya akan dijual.” Ungkapnya.

                Kegiatan yang berlangsung dari jam 15.30 WIB sampai pukul 18.30 WIB berjalan dengan lancar. Selain kelas Heritage dengan pemateri yang handal, peserta juga disuguhkan dengan pameran Foto bangunan dari Kota Medan dan Sumatera Utara oleh fotografer Andi Gultom. Selain itu, peserta juga disuguhkan acara hiburan seperti band akustik, musikalisasi puisi, dan permainan biola dari Komunitas Biola Medan sebagai penutup hiburan. Terakhir adalah pelepasan balon ke udara yang membawa harapan-harapan para peserta dan panitia agar bangunan-bangunan atau pusaka sejarah bisa dilestarikan dan dijadikan pembelajaran bagi masyarakat khususnya pemuda di Medan. Selain itu, ada juga pameran barang antik seperti kain lama, kamera lama, radio, kendi, dan lain sebagainya.
                
Grup Biola dari KBSM, ternyata salah satu personilnya
 Security IAIN, (tengah). Keren!!
Acara yang dihadiri beberapa komunitas seperti Klub Buku Medan, Akber Medan, Ikatan Arsitek Indonesia, Badan Warisan Medan, LPM Dinamika IAIN SU, Opique Pictures, Forum Arsitek Medan, Forum Lingkar Pena, Sumatera Wonder Trip, Blogger Sumut, Medan Street Hunting, dan masih banyak lagi. Acara didukung oleh PT. Lonsum Indonesia, Punya Medan, Badan Warisan Sumatra, Rubi, dan sebagainya. dan Media Partner yang mendukung suksesnya acara ini adalah ceritamedan.com, Tribun Medan, tribunmedan.com, Kiss FM, dan Aplaus. 






Lift Pertama di Kota Medan
                Ada hal unik ketika memasuki gedung Lonsum. Selain seluruh ruangan dan arsitekturnya bergaya Inggris lama, ada satu benda yang menjadi idaman para peserta. Yakni menaiki lift tertua di kota Medan. Lift ini dibuat tahun 1908. Lift ini kalau dilihat mirip dengan lift di dalam film mafia ala Hollywood. Arsitektur inggris terlihat dari gerbang yang menutup pintu lift. Memfungsikan lift ini tidak seperti lift yang ada di hotel maupun mall, lift ini seperti kandang yang dikelilingi besi yang indah ukirannya. Kemudian lift yang ditutupi kayu indah. Untuk menaikkan dan menurunkan lift uga secara manual, yakni dengan menarik tuas yang ada di dalam lift.

Lift tertua di Kota Medan
                Menurut Pak Kliwon, orang yang bertugas menjaga dan memfungsikan lift ini mengatakan bahwa dulu lift ini tidak boleh dinaiki oleh rakyat biasa atau pegawai kantor. “Hanya direktur-direktur asing dan kepala pemerintahan asing yang boleh menaiki lift ini.” ungkapnya. sedangkan yang lain seperti pegawai kantor dipersilahkan untuk berjalan kaki dari tangga yang berada di sebelah lift. (8/3)

                Tapi sekarang sudah diperbolehkan, setiap pegawai boleh menaiki lift bersejarah ini. Namun untuk wisatawan, tidak dibolehkan sebelum mendapat izin dari pihak PT. Lonsum Indonesia. Karena itu sangat beruntung sekali para peserta Medan Heritage bisa merasakan bagaimana lift tertua di Medan ini.

Untuk perawatan, Kliwon harus ekstra menjaganya. Karena alat-alat lift tidak ada lagi dijual. Untuk itu, setiap setahun sekali didatangkan pakar ahli langsung dari Inggris untuk mengecek kualitas lift agar tetap layak dipakai sebagai bukti sejarah yang masih ada dan masih berfungsi.

Kandang Besi Lift yang masih bagus
                Selain diajak untuk menaiki lift, peserta juga diberi kesempatan mengenal sejumlah ruangan yang ada. Pegawai Lonsum mengajak berkeliling untuk melihat ruang kerja PT. Lonsum Indonesia. Masih banyak peninggalan sejarah di gedung ini. Bentuk gedung juga tidak berubah. Hanya saja situasi ruangan yang berubah seperti meja-meja baru, ruang rapat dan lainnya.

Asal Kata Helvetia, Marelan, Tanjung Morawa, dan Raon-raon.
               
                tidak selamanya kata yang diucapkan lahir begitu saja. pasti mempunyai sejarah dan asal muasal mengapa nama atau kata itu sering diucapkan dan menjadi kebiasaan. Bisa saja kata tersebut berasal dari bahasa asing, atau bahasa daerah. Kemudian diserap dan akhirnya menjadi utuh sampai sekarang. Dalam diskusi kelas heritage di Gedung Lonsum sabtu (8/3), ada beberapa tempat yang mempunyai sejarah.

                Yang pertama adalah Helvetia. Dari slide materi yang disampaikan Erond, tentang peta komoditi perkebunan kota Deli, ada sebuah daerah yang bernama Helvetica. Helvetica adalah nama Latin untuk negara Swiss. Tahun 1865 dua pemilik perkebunan asal Swiss, Mots dan Breker mendirikan perkebunan tembakau di Deli (daerah sekitar Medan kini) bernama KonigsgrÀtz. Semakin lama, karena memang logat daerah yang merubahnya menjadi Helvetia. “Bisa dikatakan sulit untuk mengungkapkannya, jadi masyarakat mau mudahnya saja, jadilah Helvetia.” Kata Erond.

                Kedua adalah Marelan. Salah satu kecamatan baru di Medan ini mempunyai sejarah dalam penamaannya. Marelan berada di utara kota Medan. Dulunya nama Marelan berasal dari salah satu kota di Amerika, yaitu Maryland. Daerah Maryland merupakan daerah perkebunan Deli. Sama seperti Helvetia, menurut Erond, karena logat daerah yang susah mengucapkannya, akhirnya sekarang menjad Marelan. Disini baru ditemukan situs yang menjadi sejarah baru kota Medan, yaitu situs kota Cina.

                Kemudian Raon-raon, menurut Armyta, dulu orang-orang Belanda khususnya gadis-gadis Belanda sering berjalan dengan kusir mengitari sekeliling kota Medan. Melewati Kantor pos, dan kantor-kantor bersejarah yang berada di kawasan Espalande. Atau yang sering kita kenal Lapangan Merdeka Medan. Esplanade adalah kawasan hijau untuk berkumpul dan berjalan-jalan. Karena dulunya gadis-gadis Belanda mengitari Esplanade. Mereka dulu sering menyebutnya Round. Dan sampai sekarang kata yang diucapkan disebut Raun-raun.

                Banyak sekali pengetahuan yang diberikan dalam Kelas Heritage. Setelah mengetahui siapa dan bagaimana sejarah berdirinya Lonsum, gedung De Deli Maatschappij,Liem Bwan Tjie yang membangun Stadion Teladan, Van der Valk yang membangun Pusat Pasar, dan Snuyf yang membangun Kantor Pos Medan. Tujuan dari kelas ini juga untuk mempromosian Medan khususnya dan Sumatera Utara umumnya sebagai wilayah Heritage yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi. “Tahun 1927 saja Residen Sumatera Timur sudah mempromosikan lewat iklan Sumatera Utara. Seharusnya kita sekarang uga ikut mempromosikannya”. Ungkap Armyta.  
Foto udara Esplanade (Lapangan Merdeka)

Komentar

Postingan Populer