KELAS HERITAGE LONSUM TEMPOE DOELOE: MENGENAL SEJARAH MEDAN
| Narasumber: Armyta Surbakti (kiri) dan Erond Damanik (tengah), dan Perwakilan dari Lonsum (kanan). |
Ahmad Hakiki
Jika pergi ke suatu desa, pastilah yang diharapkan suasana indah, asri dan pemandangan alam yang eksotis. Belum lagi menjelajahi wisata bahari yang kaya dengan sejuta karang, ikan yang berenang, lautnya biru ditemani ombak nyiur, sampai ke pulau yang meninggalkan keindahan Sang Penciptanya. Namun bagaimana dengan suasana di Kota? Apa yang biasa dicari oleh para turis atau penikmat wisata? Tentu tak lain adalah bangunan tua yang bersejarahnya. Bangunan tua yang dibuat kokoh tak luput dimakan zaman adalah pemandangan yang indah jika berwisata ke salah satu kota. Seperti Medan misalnya. Ibu Kota Sumatera Utara ini banyak meninggalkan gedung-gedung bersejarah yang banyak berdiri sebagai saksi bahwa Medan adalah salah satu kota besar di Indonesia. Peninggalan Belanda, Kesultanan Deli, peninggalan etnis Keling dan Tionghoa masih bisa kita lihat dan menjadi penawaran besar bagi orang luar yang ingin bertamasya di Kota Medan. Namun miris, ketika sebagian gedung itu tak terawat, bahkan sudah hampir roboh. Banyak juga yang sudah digantikan posisinya sebagai salah satu aset yang menjadi pemeliharaan negara yang harus dilestarikan. Dan ada juga yang tertutup iklan-iklan besar atau baliho sehingga hilang arwahnya sebagai wisata kota.
Jika pergi ke suatu desa, pastilah yang diharapkan suasana indah, asri dan pemandangan alam yang eksotis. Belum lagi menjelajahi wisata bahari yang kaya dengan sejuta karang, ikan yang berenang, lautnya biru ditemani ombak nyiur, sampai ke pulau yang meninggalkan keindahan Sang Penciptanya. Namun bagaimana dengan suasana di Kota? Apa yang biasa dicari oleh para turis atau penikmat wisata? Tentu tak lain adalah bangunan tua yang bersejarahnya. Bangunan tua yang dibuat kokoh tak luput dimakan zaman adalah pemandangan yang indah jika berwisata ke salah satu kota. Seperti Medan misalnya. Ibu Kota Sumatera Utara ini banyak meninggalkan gedung-gedung bersejarah yang banyak berdiri sebagai saksi bahwa Medan adalah salah satu kota besar di Indonesia. Peninggalan Belanda, Kesultanan Deli, peninggalan etnis Keling dan Tionghoa masih bisa kita lihat dan menjadi penawaran besar bagi orang luar yang ingin bertamasya di Kota Medan. Namun miris, ketika sebagian gedung itu tak terawat, bahkan sudah hampir roboh. Banyak juga yang sudah digantikan posisinya sebagai salah satu aset yang menjadi pemeliharaan negara yang harus dilestarikan. Dan ada juga yang tertutup iklan-iklan besar atau baliho sehingga hilang arwahnya sebagai wisata kota.
Ada beberapa
cara yang harus dilakukan untuk melestarikan sejarah kota seperti kekhasannya
sebuah kota yang terletak dari bangunan-bangunan tua bersejarahnya. Salah
satunya adalah memproklamirkan seperti yang termaktub dalam undang-undang no.5
tahun 1992 tentang benda cagar budaya. Dalam pasal 13 sampai 18 dituliskan
bahwa pemeliharaan dan pengelolaan adalah urusan negara dan masyarat, kelompok,
serta perorangan berperan serta dalam pengelolaan benda cagar budaya. Dalam
bahasa Inggris, disebut Heritage.
Dalam kamus
yang ditulis oleh John M Echols dan Hassan Shadily, Heritage berarti warisan atau pusaka. Sedangkan dalam kamus Oxford,
Heritage ditulis sebagai sejarah,
tradisi, dan nilai-nilai yang dimiliki suatu bangsa atau negara selama
bertahun-tahun dan diangap sebagai bagian penting dari karakter mereka.
Sedangkan menurut UNESCO, lembaga PBB yang menaungi pendidikan dan kebudayaan
dunia, mengartikan Heritage sebagai sebagai
warisan (budaya) masa lalu, apa yang saat ini dijalani manusia, dan apa yang
diteruskan kepada generasi mendatang. Intinya, Heritage adalah usaha untuk
menjaga, melindungi, melestarikan, dan mempromosikan warisan budaya masa lalu
dan menjadikannya aset kota yang bermanfaat untuk masa depan.
Memang,
semestinya semua lini harus saling berkonstribusi dalam menjaga dan
melestarikannya. Seperti para pemuda pemudi satu ini. Medan Heritage. Salah
satu wadah dari beberapa komunitas di Medan yang peduli dengan nyawa bangunan
tua di Medan. Kali ini, Medan Heritage mengadakan acara yang bertajuk “Kelas
Heritage, Cerita Lonsum Tempoe Doeloe”. Tajuk ini menjelaskan tentang sejarah
gedung London Sumatra (Lonsum) dari awal pembangunan sampai sekarang.
Kelas Heritage
Kegiatan
dimulai pukul 15.00 WIB. kegiatan dilaksanakan di lantai 5, ruang paling atas
gedung Lonsum, atau rooftop. Dari luar saja sudah tampak kekhasan arsitektur bergaya lama
dari gedung ini. Yang membangun gedung Lonsum adalah perusahaan dari Inggris,
yakni H & C ("Harrisons & Crosfield" company). Harrisons
& Crosfield (H&C) didirikan oleh Trio Daniel Harrison, Smith Harrison
and Joseph Crosfield pada tahun 1844 di Liverpool dan bergelut di bidang
importir teh dan kopi. Pada akhir abad ke 19 sebelum melonjaknya harga karet
semasa Perang Dunia kedua, H&C mulai tertarik untuk melakukan investasi
usaha perkebunan karet dan mengoperasikan beberapa perkebunan di Malaysia,
Srilangka, Sumatra, Papua dan India Selatan.
Menurut Erond
L. Damanik, Dosen Unimed ini dalam kelas Heritage
di Aula Lonsum mengatakan bahwa sebelum berdirinya bangunan-bangunan, Medan
hanyalah hutan rawa dan kampung yang sedikit penghuninya. Pusat keramaian di
Sumatera Timur terletak di Deli (sekarang Medan Labuhan). Seorang pengusaha
Belanda, Jacob Nienhuys, adalah orang yang melihat potensi tembakau di Deli
menjadi sebuah komoditi yang menjanjikan. Akhirnya ialah yang membuat tembakau
Deli menjadi terkenal karena kualitasnya dan masuk ke pasar internasional
khususnya di Amsterdan dan Bremen. Kemudian dia menjadikan perusahaan De Deli Maatschappij. “Sehingga
perusahaan tersebut menjadi perusahaan terbesar di Deli.” Ungkap beliau. (8/3)
| Suasana Kelas Heritage |
Kemudian
karena daerah Deli sangat rentan dengan banjir, sangat tidak mungkin menjadikan
Deli sebagai sebuah kota untuk kegiatan ekonomi Belanda pada saat itu. Walau
Deli adalah tempat istana Sultan Deli berada dan banyak bangunan sejarah yang
masih ada sekarang kita lihat seperti Mesjid Osmani, Kuil Dewi Kwan Im, namun
akhirnya Nienhuys, mengambil kebijakan untuk membuat sebuah tempat sebagai
tempat kegiatan ekonomi. Dan terpilihlah Medan pada saat itu. Bangunan pertama
yang dibangun adalah gedung De Deli Maatschappij di belakang Gedung
Capital Building sekarang. Kemudian karena semakin bertambah penghuni dan juga
menjadi tempat kegiatan ekonomi berlangsung, Medan menjadi ibukota Keresidenan
Sumatra Timur. Sebelumnya ibukota Sumatera Timur terletak di Bengkalis, Riau.
Kemudian
pembicara kedua, Asmyta Surbakti, Dosen Fakultas Sastra di USU mengatakan bahwa
heritage adalah sebuah kesempatan kita untuk lebih memanfaatkan pelestariannya.
Karena hari ini manusia sudah memasuki peradaban yang keempat. “Pertama adalah
peradaban bertani, kemudian industri, sampai ke teknologi, dan sekarang adalah
dunia ekonomi kreatif.” Ungkapnya. (8/3)
Asmyta
mengajak kepada peserta yang hadir untuk menyongsong Asean Economic Community
2015 dengan memperkenalkan nilai-nilai heritage yang ada di Medan khususnya.
Kemudian pemerintah, swasta, dan masyarakat serta pemuda khususnya sama-sama
peduli dengan menjaga dan mengawasi bangunan-bangunan bersejarah di kota Medan.
Karena sangat sayang sekali melihat Lapangan Merdeka yang sudah dikontrak
dengan swasta beberapa lahannya. Seperti menara kembar yang ada di dekat rumah
sakit Malahayati, satu sudah ambruk, tinggal satu lagi. Bahkan ada bangunan
yang tertutupi baliho atau papan iklan besar. “berangkali semakin lama dengan
sengaja mereka bersembunyi untuk menghancurkannya dan tanahnya akan dijual.”
Ungkapnya.
Kegiatan
yang berlangsung dari jam 15.30 WIB sampai pukul 18.30 WIB berjalan dengan
lancar. Selain kelas Heritage dengan pemateri yang handal, peserta juga
disuguhkan dengan pameran Foto bangunan dari Kota Medan dan Sumatera Utara oleh
fotografer Andi Gultom. Selain itu, peserta juga disuguhkan acara hiburan
seperti band akustik, musikalisasi puisi, dan permainan biola dari Komunitas
Biola Medan sebagai penutup hiburan. Terakhir adalah pelepasan balon ke udara
yang membawa harapan-harapan para peserta dan panitia agar bangunan-bangunan
atau pusaka sejarah bisa dilestarikan dan dijadikan pembelajaran bagi masyarakat
khususnya pemuda di Medan. Selain itu, ada juga pameran barang antik seperti
kain lama, kamera lama, radio, kendi, dan lain sebagainya.
| Grup Biola dari KBSM, ternyata salah satu personilnya Security IAIN, (tengah). Keren!! |
Lift Pertama di Kota Medan
Ada hal unik
ketika memasuki gedung Lonsum. Selain seluruh ruangan dan arsitekturnya bergaya
Inggris lama, ada satu benda yang menjadi idaman para peserta. Yakni menaiki
lift tertua di kota Medan. Lift ini dibuat tahun 1908. Lift ini kalau dilihat
mirip dengan lift di dalam film mafia ala Hollywood. Arsitektur inggris
terlihat dari gerbang yang menutup pintu lift. Memfungsikan lift ini tidak seperti
lift yang ada di hotel maupun mall, lift ini seperti kandang yang dikelilingi
besi yang indah ukirannya. Kemudian lift yang ditutupi kayu indah. Untuk
menaikkan dan menurunkan lift uga secara manual, yakni dengan menarik tuas yang
ada di dalam lift.
| Lift tertua di Kota Medan |
Menurut
Pak Kliwon, orang yang bertugas menjaga dan memfungsikan lift ini mengatakan
bahwa dulu lift ini tidak boleh dinaiki oleh rakyat biasa atau pegawai kantor.
“Hanya direktur-direktur asing dan kepala pemerintahan asing yang boleh menaiki
lift ini.” ungkapnya. sedangkan yang lain seperti pegawai kantor dipersilahkan
untuk berjalan kaki dari tangga yang berada di sebelah lift. (8/3)
Tapi
sekarang sudah diperbolehkan, setiap pegawai boleh menaiki lift bersejarah ini.
Namun untuk wisatawan, tidak dibolehkan sebelum mendapat izin dari pihak PT.
Lonsum Indonesia. Karena itu sangat beruntung sekali para peserta Medan
Heritage bisa merasakan bagaimana lift tertua di Medan ini.
Untuk
perawatan, Kliwon harus ekstra menjaganya. Karena alat-alat lift tidak ada lagi
dijual. Untuk itu, setiap setahun sekali didatangkan pakar ahli langsung dari
Inggris untuk mengecek kualitas lift agar tetap layak dipakai sebagai bukti
sejarah yang masih ada dan masih berfungsi.
| Kandang Besi Lift yang masih bagus |
Selain
diajak untuk menaiki lift, peserta juga diberi kesempatan mengenal sejumlah
ruangan yang ada. Pegawai Lonsum mengajak berkeliling untuk melihat ruang kerja
PT. Lonsum Indonesia. Masih banyak peninggalan sejarah di gedung ini. Bentuk
gedung juga tidak berubah. Hanya saja situasi ruangan yang berubah seperti
meja-meja baru, ruang rapat dan lainnya.
Asal Kata Helvetia, Marelan, Tanjung Morawa, dan Raon-raon.
tidak
selamanya kata yang diucapkan lahir begitu saja. pasti mempunyai sejarah dan
asal muasal mengapa nama atau kata itu sering diucapkan dan menjadi kebiasaan. Bisa
saja kata tersebut berasal dari bahasa asing, atau bahasa daerah. Kemudian diserap
dan akhirnya menjadi utuh sampai sekarang. Dalam diskusi kelas heritage di Gedung
Lonsum sabtu (8/3), ada beberapa tempat yang mempunyai sejarah.
Yang
pertama adalah Helvetia. Dari slide materi
yang disampaikan Erond, tentang peta komoditi perkebunan kota Deli, ada sebuah
daerah yang bernama Helvetica. Helvetica adalah nama Latin untuk negara Swiss. Tahun 1865 dua pemilik perkebunan asal Swiss, Mots dan Breker
mendirikan perkebunan tembakau di Deli (daerah sekitar Medan kini) bernama KonigsgrÀtz.
Semakin lama, karena memang logat daerah yang merubahnya menjadi Helvetia. “Bisa
dikatakan sulit untuk mengungkapkannya, jadi masyarakat mau mudahnya saja, jadilah
Helvetia.” Kata Erond.
Kedua
adalah Marelan. Salah satu kecamatan baru di Medan ini mempunyai sejarah dalam
penamaannya. Marelan berada di utara kota Medan. Dulunya nama Marelan berasal
dari salah satu kota di Amerika, yaitu Maryland. Daerah Maryland merupakan
daerah perkebunan Deli. Sama seperti Helvetia, menurut Erond, karena logat daerah
yang susah mengucapkannya, akhirnya sekarang menjad Marelan. Disini baru
ditemukan situs yang menjadi sejarah baru kota Medan, yaitu situs kota Cina.
Kemudian
Raon-raon, menurut Armyta, dulu orang-orang Belanda khususnya gadis-gadis
Belanda sering berjalan dengan kusir mengitari sekeliling kota Medan. Melewati Kantor
pos, dan kantor-kantor bersejarah yang berada di kawasan Espalande. Atau yang sering kita kenal Lapangan Merdeka Medan. Esplanade
adalah kawasan hijau untuk berkumpul dan berjalan-jalan. Karena dulunya
gadis-gadis Belanda mengitari Esplanade. Mereka dulu sering menyebutnya Round. Dan
sampai sekarang kata yang diucapkan disebut Raun-raun.
Banyak
sekali pengetahuan yang diberikan dalam Kelas Heritage. Setelah mengetahui siapa dan bagaimana sejarah berdirinya
Lonsum, gedung De Deli Maatschappij,Liem
Bwan Tjie yang membangun Stadion Teladan, Van der Valk yang membangun Pusat
Pasar, dan Snuyf yang membangun Kantor Pos Medan. Tujuan dari kelas ini juga
untuk mempromosian Medan khususnya dan Sumatera Utara umumnya sebagai wilayah
Heritage yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi. “Tahun 1927 saja Residen
Sumatera Timur sudah mempromosikan lewat iklan Sumatera Utara. Seharusnya kita
sekarang uga ikut mempromosikannya”. Ungkap Armyta.
![]() |
| Foto udara Esplanade (Lapangan Merdeka) |



Komentar
Posting Komentar