Tan Malaka:Pahlawan yang Terlupakan (Refleksi Hari Pahlawan)
Siapa
yang tidak mengenal Soekarno, bapak proklamator Indonesia sekaligus
menjadi presiden pertama negara Indonesia. Siapa juga yang tidak
mengenal Bung Hatta, proklamator dari bukit tinggi yang juga menjadi
bapak koperasi indonesia sekaligus menjadi wakil presiden pertama
indonesia. Namun taukah anda jika kita berbicara tentang tan malaka?
Sedikit
sekali masyarakat indonesia yang tau eksistensi dan militansinya untuk
negara ini. Apakah memang negara yang tidak mengenalkan sosoknya ketika
kita masih belia dalam pelajaran sosial atau memang kita belum peduli
dengan semangat para pejuang dahulu karena sudah terbuai dengan dunia
modern ini?
Dunia
boleh berubah, waktu terus berganti, namun asa untuk mengetahui
sejarah, mempelajari sejarah, dan menghargai sejarah harus ada di dalam
hati setiap insan bangsa yang mengaku sudah merdeka ini. Salah satunya
adalah mengetahui siapa itu Tan Malaka.
Tan
malaka Lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni
1897. Tan Malaka memiliki nama lengkap Ibrahim Datuk Tan Malaka. Ia
menempuh pendidikan Kweekschool di Bukittinggi sebelum melanjutkan
pendidikan ke Belanda.
Sepanjang 26 tahun, masa hidupnya
dihabiskan dalam petualangan di luar negeri: 6 tahun mengenyam
pendidikan di Belanda dan 20 tahun mengembara dalam pelarian politik
mengelilingi hampir separuh dunia, setara dengan 89 ribu kilometer atau 2
kali keliling bumi. Petualangannya dimulai dari Amsterdan dan Rotterdam
pada 1922, diteruskan ke Berlin, berlanjut ke Moskow, Kanton, Hongkong,
Manila, Shanghai, Amoy, dan beberapa desa di pedalaman Tiongkok,
sebelum akhirnya dia menyelundupkan diri ke Ranggon, Singapura, Penang,
lalu ke Indonesia. Seluruhnya berlangsung antara 1922 dan 1942 dengan
masa petualangan paling lama berada di Tiongkok.
Dr. Alfian menyebut Tan Malaka sebagai
revolusioner kesepian. Barangkali tidak berlebihan. Tan Malaka memang
pejuang kesepian dalam arti sesungguhnya. Antara tahun 1922-1942 itu,
Tan nyaris hidup tanpa didampingi teman seperjuangan. Sebagai pelarian
dan tahanan, Tan tak pernah berhenti memikirkan nasib tanah airnya.
Banyak gagasan yang lahir selama pelarian itu. Salah satu karyanya yang
visioner yaitu Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia)
terbit di Kanton pada April 1925. Gagasan visioner Tan ini terbit jauh
lebih dulu dibanding Muhammad Hatta, yang menulis Indonesia Vrije
(Indonesia Merdeka) sebagai pledoi di depan pengadilan Belanda di Den
Haag (1928), dan Bung Karno, yang menulis Menuju Indonesia Merdeka
(1933).
Melalui buku inilah, kemudian para
sejarawan “menobatkan” Tan sebagai Penggagas Awal Republik Indonesia.
Tan menyebarkan “buku mini” itu sendirian. Dalam kata pengantarnya di
buku itu, Tan menulis: “Jiwa saya dari sini dapat menghubungi golongan
terpelajar (intelektuil) dari penduduk Indonesia dengan buku ini.”
Pada Desember 1925, Naar de Republiek
Indonesia kemudian menyebar luas melalui jaringan Perhimpunan Pelajar
Indonesia. Para pemuda bahkan mengetik ulang buku ini, setiap kali
dengan karbon rangkap tujuh. Para pemimpin perjuangan, termasuk Bung
Karno “muda” yang kala itu memimpin Klub Debat Bandung, membaca buku
Tan. “Bung Karno selalu membawanya,” kata Sayuti Melik, seperti dikutip
Hadidjojo Nitimihardjo dalam pengantar edisi terjemahan Naar de
Republiek.
Buku kecil ini terdiri atas tiga bab,
masing-masing mengulas situasi politik dunia, kondisi Indonesia dan
garis perjuangan Partai Komunis Indonesia. Pada subbab terakhir,
“Halilintar Membersihkan Udara”, Tan mengecam kaum terpelajar Indonesia
yang, menurut dia, masa bodoh dengan perjuangan kemerdekaan. Tulisnya:
“Kepada kaum intelek kita serukan …. Tak terdengarkah olehmu, teriakan
massa Indonesia untuk kemerdekaan yang senantiasa menjadi semakin
keras?”
Bukan cuma Soekarno yang selalu
membawa-bawa Naar kemana-mana, Muhammad Yamin juga memuja Tan. Bagi
Yamin, yang kemudian bergabung dengan Tan dalam kelompok Persatuan
Perjuangan, Tan tak ubahnya Bapak Bangsa Amerika Serikat, Thomas
Jefferson dan George Washington yang merancangkan sebuah Republik
sebelum kemerdekaannya tercapai.
Tan tidak setuju dengan rencana
pemberontakan PKI yang kemudian meletus tahun 1926/1927 sebagaimana
ditulisnya dalam buku Naar de Republiek Indonesia. Perpecahan dengan
Komintern mendorong Tan Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia
(PARI) di Bangkok, Juni 1927.
Walaupun bukan partai massa, organisasi
ini dapat bertahan sepuluh tahun. Pada saat yang sama partai-partai
nasionalis di Tanah Air lahir dan mati.
Perjuangan Tan Malaka yang bersifat
lintas bangsa dan lintas benua telah diuraikan secara rinci dalam dua
jilid biografi yang ditulis Poeze. Setelah Indonesia merdeka, perjuangan
Tan Malaka mengalami pasang naik dan pasang surut. Ia memperoleh
testamen dari Bung Karno untuk menggantikan apabila yang bersangkutan
tidak dapat menjalankan tugasnya.
Di tahun 1948, Tan Malaka dikenal
sebagai penentang diplomasi dengan Belanda yang dilakukan dalam posisi
merugikan Indonesia. Ia memimpin Persatuan Perjuangan yang menghimpun
141 partai/organisasi masyarakat dan laskar, menuntut agar perundingan
baru dilakukan jika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia seratus
persen.
Tahun 1949 Tan Malaka ditembak. Tanggal
28 Maret 1963 Presiden Soekarno mengangkat Tan Malaka sebagai pahlawan
nasional. Namun, sejak era Orde Baru, namanya dihapus dalam pelajaran
sejarah yang diajarkan di sekolah walau gelar pahlawan nasional itu
tidak pernah dicabut. Tan Malaka dituduh oleh rezim Orde Baru sebagai
tokoh partai yang dituduh terlibat pemberontakan beberapa kali. Tan
Malaka justru menolak pemberontakan PKI tahun 1926/1927. Ia sama sekali
tidak terlibat dalam peristiwa Madiun 1948. Bahkan, partai yang
didirikan tanggal 7 November 1948, Partai Murba, dalam berbagai
peristiwa berseberangan dengan PKI.
Harry Poeze telah menemukan lokasi
tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur. Lokasi tempat Tan Malaka disergap dan
kemudian ditembak adalah Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, di kaki
Gunung Wilis. Penembakan itu dilakukan oleh Suradi Tekebek atas perintah
Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya. Pada masa
selanjutnya, Soekotjo pernah menjadi Wali Kota Surabaya dan terakhir
berpangkat brigjen, meninggal tahun 1980-an.
Dalam penelitiannya, Poeze juga
memanfaatkan foto-foto sejarah. Rapat raksasa di lapangan Ikada
(sekarang lapangan Monas) Jakarta, 19 September 1945, yang dihadiri
15.000 orang dari seputar Jakarta merupakan momen historis penting.
Walau Indonesia sudah merdeka, peralihan kekuasaan belum terlaksana.
Tentara Jepang masih memegang senjata dan mengancam jika rakyat
mengadakan rapat lebih dari lima orang. Rapat raksasa di lapangan Ikada
itu dirancang pemuda untuk memperlihatkan dukungan rakyat kepada
proklamasi. Soekarno ragu untuk menghadiri rapat tersebut karena
khawatir tentara Jepang melakukan penembakan massal terhadap penduduk.
Rapat itu akhirnya berlangsung dan Soekarno berpidato beberapa menit.
Poeze sempat memeriksa foto-foto tentang
peristiwa itu. Ia menemukan seseorang yang memakai helm di dekat Bung
Karno ketika berpidato. Bahkan, pada salah satu foto, Soekarno dan orang
itu berjalan berdampingan. Setelah membandingkan berbagai foto itu,
berkesimpulan bahwa lelaki berhelm itu adalah Tan Malaka. Lelaki itu
lebih pendek dari Soekarno dan ukurannya di foto ternyata cocok karena
tinggi Soekarno adalah 1,72 meter dan Tan Malaka 1,65 meter.
Harry Poeze telah menemukan lokasi
tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur berdasarkan serangkaian wawancara yang
dilakukan pada periode 1986 sampai dengan 2005 dengan para pelaku
sejarah yang berada bersama-sama dengan Tan Malaka tahun 1949. Dengan
dukungan dari keluarga dan lembaga pendukung Tan Malaka, sedang dijajaki
kerja sama dengan Departemen Sosial Republik Indonesia untuk
memindahkan kuburannya ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Dalam kondisi ini, Tan Malaka mungkin
lebih cocok disebut sebagai pahlawan yang terlupakan. Mengapa demikian,
karena Ia berpuluh-puluh tahun telah berjuang bersama rakyat, namun
kemudian dibunuh dan dikuburkan disamping markas militer di sebuah desa
di Kediri pada 1949, tanpa banyak yang tahu. Padahal ia lebih dari tiga
dekade merealisasikan gagasannya dalam kancah perjuangan Indonesia. Ini
dapat dilihat dari ketika Tan Malaka pertama kali menginjakkan kaki di
tanah Jawa, yakni dengan mendirikan Sekolah Rakyat di Semarang. Padahal
Tan Malaka ketika itu sedang dalam pengejaran Intelijen Belanda, Inggris
dan Amerika.
Menurutnya, pendidikan rakyat jelas
merupakan cara terbaik membebaskan rakyat dari kebodohan dan
keterbelakangan untuk membebaskan diri dari kolonialisme. Tan Malaka dan
gagasannya tidak hanya menjadi penggerak rakyat Indonesia, tetapi juga
membuka mata rakyat Filipina dan semenanjung Malaya atau bahkan dunia.
Itulah sedikit sejarah tentang geliat
Tan Malaka dalam memperjuangkan kemerdekaan. Buku terkenal beliau adalah
madilog. Buku tentang perjalanan beliau melawan segala rintangan.
Begitu derasnya perjuangannya. Namun tak seindah hari ini. Di hari
pahlawan yang setiap insan bangsa ini mengenang sejenak kegigihan para
pahlawan. Miris ketika sampai saat ini makam Tan Malaka pun belum
ditemukan dan belum dianggap dan disematkan sebagai pahlawan bangsa.
Beliau adalah Pahlawan yang terlupakan.
“Ia, Tan Malaka, orang
pertama yang menulis konsep Republik Indonesia… Tapi hidupnya berakhir
tragis di ujung senapan tentara republik yang didirikannya.”
Referensi :
(http://sejarah.kompasiana.com/2013/08/19/tan-malaka-bapak-republik-yang-terlupakan-585277.html)



Komentar
Posting Komentar