Peristiwa Malaysia Air, Apakah Sama Dengan Peristiwa Woyla?
![]() |
| Pesawat Garuda yang dibajak tahun 1981 di Thailand |
Ahmad Hakiki
Sudah hampir seminggu lebih
lamanya, pesawat terbang Malaysia Air MH370 boeing 777-200 belum juga
ditemukan. Hilangnya pesawat ini sontak membuat geger mata dunia dimana pesawat
ini merupakan salah satu pesawat terbaik. Namun yang menjadi lebih tragis lagi
adalah penumpang di dalam bukan hanya satu negara, namun penumpang berasal dari
beberapa negara berbeda. Ada 239 orang berada dalam pesawat tersebut.
Berbagai spekulasi alasan datang
berbondong-bondong mengklaim dimana sekarang pesawat berada. Ada yang
mengatakan tenggelam di lautan yang dalam. Ada juga yang mengatakan dibajak. Bahkan
Dukun dari Malaysia, Ibrahim Mat Zin mengatakan Malaysia Air sekarang berada di
alam ghaib, alam bunyian. Dia masuk ke dalam portal gaib sehingga terjebak dan
tak tau arah jalan pulang. Kabar ini dibenarkan tokoh spiritual dari Indonesia
yang terkenal, Ki Joko Bodo. Bahkan ada juga yang mengatakan pesawat diculik Alien.
Kabar tenggelam ke lautan sempat
santer dibicarakan. Mulai dari Laut Cina Selatan, kemudian beralih ke Selat
Malaka, dan terakhir pencarian dilakukan
di Samudra Hindia. Beberapa negara ikut membantu mencari pesawat yang hilang
tersebut. Sejauh ini, tim pencarian multinasional telah mengumpulkan 24 pesawat
dan 40 kapal dari Malaysia, China, Vietnam, Australia, Thailand, Filipina,
Indonesia, Singapura, dan Amerika Serikat (AS).
Peristiwa ini mengingatkan
penulis kepada sala satu peristiwa besar yang pernah terjadi pada pesawat kita,
pesawat Garuda yang dibajak oleh komplotan Teroris. Dilansir dari Wikipedia,
Pesawat Garuda Indonesia DC-9 Woyla mengalami insiden pembajakan pada 28 Maret
1981. Pesawat dibajak usai lepas landas dari Bandara Talangbetutu, Palembang
dengan tujuan Bandara Polonia, Medan.
Pesawat DC-9 Woyla tersebut
berangkat dari Jakarta pada pukul 08.00 WIB. Kemudian melakukan transit di
Palembang. Dalam penerbangan, pesawat tersebut tiba-tiba dibajak oleh lima
orang teroris Komando Jihad yang menyamar sebagai penumpang. Imran bin Muhammad
Zein, mengidentifikasi diri sebagai anggota kelompok Islam ekstremis
"Komando Jihad" dan otak pembajakan pesawat ini. Setelah lepas landas,
dua penumpang bangkit dari tempat duduk mereka, satu menuju ke kokpit dan
menodongkan senjata. Satu lagi berdiri di gang antara tempat-duduk pesawat.
Pada pukul 10.10 pesawat tersebut dikuasai oleh lima pembajak, semuanya
bersenjata api.
Setelah mendarat sementara untuk
mengisi bahan bakar di Bandara Penang, Malaysia, akhirnya pesawat tersebut
terbang dan mengalami drama puncaknya di Bandara Don Mueang di Bangkok, Muang Thai
31 Maret 1981. Pembajak yang menguasai kokpit memerintahkan pilot untuk terbang
ke Kolombo, Sri Lanka, namun pilot berkata bahwa pesawat tersebut tidak
memiliki cukup bahan bakar pesawat. Pada akhirnya pesawat dialihkan ke Penang,
Malaysia, untuk pengisian bahan bakar sebelum kemudian terbang lagi ke Thailand
atas paksaan pelaku.
Drama pembajakan pesawat Garuda
DC-9 Woyla tersebut berlangsung empat hari di Bandara Don Mueang Bangkok. Seorang
penumpang wanita lanjut usia diperbolehkan turun di Malaysia oleh para teroris.
Para teroris kemudian membacakan tuntutan mereka, yaitu agar anggota Komando
Jihad yang ditahan di Indonesia segera dibebaskan, dan uang sejumlah US$ 1,5
juta. Mereka juga meminta pesawat untuk pembebasan tahanan dan untuk terbang ke
tujuan yang dirahasiakan. Mereka mengancam telah memasang bom di pesawat Woyla
dan tidak segan untuk meledakkan diri bersama pesawat tersebut.
Operasi pembebasan pesawat DC-9
dikenal dengan sebutan Operasi Woyla yang dimulai sehari setelah tersiarnya
kabar pembajakan tersebut. Pada pukul 21.00, 29 Maret, 35 anggota Kopassandha meninggalkan
Indonesia dalam sebuah DC-10, mengenakan pakaian sipil. Pemimpin CIA di
Thailand menawarkan pinjaman jaket anti peluru, namun ditolak karena pasukan
Kopassandha Indonesia telah membawa perlengkapan mereka sendiri dari Jakarta.
Pukul 02.30 tanggal 31 Maret,
prajurit bersenjata mendekati pesawat secara diam-diam. Mereka merencanakan
agar Tim Merah dan Tim Biru memanjat ke sayap pesawat dan menunggu di pintu
samping. Semua jendela pesawat telah ditutup. Tim Hijau akan masuk lewat pintu
belakang. Semua tim akan masuk ketika kode diberikan. Pada pukul 02.43, Tim
Thailand ikut bergerak ke landasan, menunggu di landasan agar tidak ada teroris
yang lolos. Kode untuk masuk diberikan, ketiga tim masuk, dengan Tim Hijau
terlebih dahulu, mereka berpapasan dengan seorang teroris yang berjaga di pintu
belakang.
Teroris tersebut menembak dan
mengenai Achmad Kirang, salah seorang anggota Tim Hijau di bagian bawah perut
yang tidak terlindungi. Teroris tersebut kemudian ditembak dan tewas di tempat.
Tim Biru dan Tim Merah masuk, menembak dua teroris lain, sementara penumpang
menunduk. Para penumpang kemudian disuruh keluar. Seorang teroris dengan granat
tangan tiba-tiba keluar dan mencoba melemparkannya tetapi gagal meledak. Lalu
anggota tim menembak dan melukainya sebelum dia sempat keluar. Teroris terakhir
dinetralisir di luar pesawat. Imran bin Muhammad Zein selamat dalam peristiwa
baku tembak tersebut dan ditangkap oleh Satuan Para Komando Kopassandha.
Tim medis kemudian datang untuk
menyelamatkan pilot pesawat DC-9 Woyla, Kapten Herman Rante, yang ditembak
salah satu teroris dalam serangan tersebut. Namun Kapten Herman Rante meninggal
di Rumah Sakit di Bangkok beberapa hari setelah kejadian tersebut. Kedua korban
peristiwa terorisme ini kemudian dimakamkan di TMP Kalibata.
Operasi kontra terorisme ini
dilakukan oleh Grup-1 Para-Komando dibawah pimpinan Letnan Kolonel Infanteri
Sintong Panjaitan yang kemudian beserta tim-nya dianugerahi Bintang Sakti dan
dinaikkan pangkatnya satu tingkat, kecuali Achmad Kirang yang gugur di dalam
operasi terebut dinaikkan pangkatnya dua tingkat secara anumerta. Pilot pesawat
Garuda, Kapten Herman Rante, dan Achmad Kirang, salah satu anggota satuan
Pasukan Komando Kopassandha, meninggal dalam baku tembak yang berlangsung
selama operasi kilat pembebasan pesawat tersebut.
Imran bin Muhammad Zein selaku
otak peristiwa pembajakan pesawat DC-9 ini kemudian dijatuhi hukuman mati oleh
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 1981. Imran merupakan salah seorang yang
terlibat dalam Peristiwa Cicendo bersama Maman Kusmayadi, Salman Hafidz, serta
11 orang lainnya. Maman dan Salman bernasib sama dengan Imran dan dieksekusi
dalam hukuman mati.
Apakah Malaysia Air juga bernasib
sama dengan Peristiwa Woyla? Kita doakan semoga dalam waktu dekat akan mendapat
kabar dan titik terang permasalahan bisa segera di selesaikan. Kita semua tidak
ingin terjadi hal ini lagi. Dan semoga menjadi catatan bagi kita semua bahwa
utamakan keselamatan dan lakukan pengecekan ulang sehingga semua yang
dikhawatirkan berakibat buruk tidak akan terjadi.



Komentar
Posting Komentar