RINDANG ATJUH

Bocah ingusan itu menjajaki lagi korannya sebelum ia berangkat sekolah. hari itu jumat. Hari yang selalu ditunggu umat Islam untuk berkumpul untuk beribadah menghadap Sang Ilahi. Pagi ini tidak seperti biasanya. Mendung nampak menutupi eloknya pemandangan biru langit dan nampak muka masam awan mengungkit-ungkit. Koran yang dijajaki tidak sebanyak yang ia jual sebelumnya. Tampak masam muka bocah. hari senin harus membayar uang sekolah yang sudah 5 bulan ia tunggak.

Duduk ia sendiri merenungi nasib merana yang tiada henti. Suara mobil yang tak henti-henti berlalulalang. Angin semakin dingin menusuk ke dada bocah ingusan yang pada saat itu memakai seragam sekolah. Tak semangat lagi hari ini untuk pergi mencari ilmu pasti. Dia tergeletak sejenak melihat awan mendung yang semakin gelap. Ditidurinya koran yang tak habis dijual karena mendung itu.


Perasaan yang terus menusuk didada tak jua mengembalikan kehidupan bocah ingusan itu kepada keadaan yang baik. Tiba-tiba menetes air mata dari kelopak mata indah si kecil dengan impian yang besar itu.
“ingin sekali aku ada dipelukan ibu lagi seperti dulu”.

**

Dari sudut jalan warung kopi itu mendendangkan lagu tembang kenangan Ernie Djohan. Warung kopi kecil, kira-kira muat untuk 10 orang. Disana dijajakan makanan pagi seperti nasi gurih, lontong, lupis, dan sebagainya. Jika siang tiba, warung kopi ini beralihfungsi menjadi kedai kopi untuk para penarik becak motor yang nongkron, bakombur membicarakan negara yang sudah tak lagi bersimpati. Ada yang membaca koran, ada yang bermain catur, ada juga yang menyeduh kopinya karena letih berkeringat mencari nafkah buat keluarga.

Di atas warung tertempel panjang sebuah spanduk untuk menutupi cahaya matahari agar tidak silau terkena mata. Namun, spanduk itu masih baru terlihat. Bocah ingusan melihat dengan serius. Tak seperti yang lalu. Setahunya, spanduk yang terpampang adalah sebuah spanduk dari acara pelantikan okp. Sekarang berubah dengan gambar seorang yang tidak ia kenal. Bocah ingusan ingin pergi bergegas ke sekolah. tidak malu walau sekolah hanya 5 menit berjalan kaki dari tempat ia mengais rezeki demi sesuap ilmu di tempat ia belajar.

Ia pandangi lelaki yang mengenakan kopiah hitam dengan sangat garang. Foto setengah tubuh itu terlihat garang sambil memakai jas dan dasi. Yah, ada angka disebelahnya dan kata-kata ajakan yang bocah ingusan tak mengerti.

“Pilih saya, Mohon doa restu”.
“Jangan lupa, untuk negara lebih baik”.

Bocah ingusan menyengir. Ia terpaku melihat gagahnya si lelaki tua itu. berjalan ia, seakan lupa dengan kegelisahannya tadi. Koranpun terlupakan. Berharap ada harapan dengan kegagahan yang tiba-tiba datang itu.

Sesampai disekolah, tempat harapan tersusun rapi, bocah ingusan tampil garang seperti spanduk yang terpampang di warung kopi tadi. Ia masih hapal betul tulisan yang termuat. Lelaki tua telah membuat terpesona si bocah ingusan. Sambil jalan ia berlakon. “pilih saya, untuk negara yang lebih baik.”

Sepulang sekolah. Bocah ingusan berniat urung pulang dulu. Karena koran yang belum banyak terjual. Berfikir dia untuk menjual. Terpaksa ia pergi ke tempat- tempat ramai berharap koran dapat laku dan laporan kepadal kepala loper dapat dibanggakan. Keliling dia ke ruko, halte, kaki lima, sampai lemah kakinya berjalan. Baju dalam yang ia pakai sudah basah dihujani keringat. Ia lalu duduk di sebuah pohon rindang. Sepertinya pohon mangga. Ia alih tatapannya ke atas. Terlihat sebuah gambar yang ia curigai pernah melihat sebelumnya. ia linglung. Bergejolak pemikirannya dan mencari apa yang terlihat. Ternyata....

Lelaki tua terpampang lagi di sebuh pohon. Nampaknya gambar yang berukuran buku besar para akuntan itu terpaku kuat. Dibawah gambar terlihat pengumuman dengan tulisan “butuh badut?hubungi blablabla.”

Bocah ingusan merasakan dirinya sama seperti lelaki tua itu. bergaya dia dengan lenggak lenggok gagahnya si bocah. tiba-tiba datang segerombolan lelaki berbaju seragam coklat. Terlihat wajah mereka hitam garang. Menaiki mobil besar yang agak tua terlihat kondisinya. Terpaksa Bocah lari tunggang langgang. Karena takut menjadi salah satu incaran wajah menakutkan itu. sembunyi ia disebuah pohon. Dilihatnyalah gambar lelaki tua itu dicopot paksa oleh pria menakutkan itu. Dia tak habis pikir, begitu tega mereka mencobot idola baru si bocah? dengan wajah penuh amarah, bocah bermentalkan metal itu mendatangi si lelaki menakutkan.

“Apa yang menyebabkan gambar ini dicopot paksa wahai ruh yang punya hati?”

Pria seram itu hanya diam lalu acukan bocah. Berganti pohon ke pohon untuk merobek-robek gambar pria berkopiah. Bocah mendatangi lagi si pria seram.

Apa yang terjadi setelah itu?

(Bersambung)

Ahmad Hakiki

Komentar

Postingan Populer