SINABUNG MASIH INDONESIA, BUNG! (MENIKMATI AKTIVITAS APEPEBE DI ZONA MERAH SINABUNG)
Oleh: Ahmad Hakiki
“Malam itu
langit bertabur bintang, dengan sejuta gugusannya. Warga berkumpul menikmati
suasana yang riuh. Hiburan dari kelompok muda asal Medan, ApePeBe, meneteskan
kenangan, menciptakan senyum-senyum harapan. Gunung Sinabung menjadi saksi
malam itu. Betapa hangat genggaman erat persaudaraan. Sejenak lupa dengan
ancaman yang begitu besar. Ancaman di dekat mereka.”
Langit begitu
cerah. Kota Medan memang memasuki suhu panas melebihi sinaran biasanya.
Meyengat dan berkeringat. Tampaknya bulan puasa kali ini diberi tambahan ujian.
Tapi, jika ujian tambahan ini diisi dengan waktu berbagi, maka tambahan
kebaikan pula menyertai. Pagi itu, di ujung Kota, Di Pitu Room, bersiap beberapa pemuda
dengan kendaraannya masing-masing, menuju Desa Perbaji, Kabupaten Karo.
Di dalam mobil
sudah tersusun rapi logistik yang akan dibawa. Tertumpuk rapi juga sejumlah tas
yang akan diberikan kepada anak-anak Perbaji. Melaju beriringan beberapa roda
dua yang dikendarai pemuda-pemudi kota. Yang
mengatasnamakan dirinya sebagai kelompok Aliansi Pemuda Peduli Bencana
(APePeBe).
Sesampai di
bumi Karo, langit cerah tak berawan. Tampak jelas Gunung Sinabung yang masih belum
tau kapan redanya. Iringan rombongan makin cepat melaju gas. Waktu terus
berputar. Jam 3 sore acara mesti dilaksanakan.
Sinabung Masih Indonesia
Desa
Perbaji siang itu tampak berseri. Rumah-rumah tradisional berjejer tampak indah
nian dipandang. Masih belum hilang bekas lahar dingin yang mengancam penduduk.
Air sungai terlihat kering. Pertanda kemarau panjang bermusim di desa Guru
Patimpus ini.
Tim
baru saja tiba. Semua motor diparkirkan di depan Rumah Baca Cakrawala APePeBe.
Beberapa relawan sudah tiba di hari sebelumnya. Mereka mempersiapkan teknis
acara dan juga perlengkapan acara. Tim yang baru tiba langsung sigap mencari
kesibukan. Ada yang memasak takjil, mempersiapkan perlengkapan musik, dan ada
yang pergi ke mesjid.
Irwan
Azhari, biasa dipanggil Iwan Cungir, sudah tiba di hari sebelumnya. Saat tim
tiba, beliau terlihat sedang mendirikan spanduk bertajuk “Sinabung Masih
Indonesia”. Tepat di bawah gapura indah Desa Perbaji. Iwan merupakan ketua
panitia kegiatan “Sinabung Masih Indonesia”.
Menurutnya,
kegiatan di Perbaji ini adalah puncak kegiatan dari rentetan kegiatan-kegiatan
sebelumnya. Perlu diketahui, ApePeBe mengadakan penggalangan dana di Kota Medan
dengan tajuk yang sama. Kegiatan diadakan pertama di Garasi Cafe, di minggu
pertama Ramadhan. kemudian di halaman Pitu Room minggu selanjutnya, dan
terakhir di Anjungan Cafe Sri Laela Manja. Penggalangan dana juga dilakukan di
sekitaran Lapangan Merdeka. Penggalangan dana ini kemudian menghasilkan donasi
yang lumayan bermanfaat untuk warga yang terkena dampak Gunung Sinabung. ”Total
dana yang terkumpul dari penggalangan dana dan juga donasi melalui rekening
sebesar 9 jutaan,” terang Iwan.
Setelah dilaksanakannya penggalangan dana itu,
barulah hasilnya disalurkan ke Desa Perbaji. Perbaji merupakan desa dampingan
APePeBe. Sebelumnya, APePeBe sudah mendirikan rumah baca di desa ini. Dan juga
sering melakukan kegiatan sosial. Silih berganti relawan menghibur warga,
khususnya anak-anak.
Untuk teknis
penyerahan, APePeBe tidak serta merta hit
and run. Teknis acara harus dibuat sekreatif mungkin. Acara nantinya tidak
hanya formil penyerahan, ada hiburan dan workshop buat anak-anak Perbaji. “Akan
ada hiburan yang membuat warga menjadi semangat selalu walau ancaman di depan
mereka,” tegas Iwan.
Iwan
berharap, kegiatan ini menjadi media agar Indonesia tau, bahwa di lingkaran
Sinabung masih banyak penduduk bermukim. Kemudian harapan ini agar pemerintah
tau, warga Perbaji membutuhkan mereka. Hidup dalam ancaman bencana itu sangat
menakutkan. Sudah seharusnya warga dipercepat relokasinya ke tempat yang aman. “Janganlah
lagi anggaran bantuan sosial digerogoti. Alirkan anggaran tersebut ke daerah
terdampak bencana. Agar saudara kita bisa mewujudkan cita-cita mereka. Mereka
juga punya hak untuk hidup tenang di negeri ini,” tegas Iwan.
Berbuka di Zona Merah (Sabtu, 2 Juli 2016)
Waktu
berbuka sebentar lagi. Sore hari itu, di sebuah Jambur Desa Perbaji, relawan
ApePeBe mengajak anak-anak untuk bermain dan bernyanyi bersama. Jansen, dan
kawan-kawan dari Filsafatian membawakan beberapa lagu anak-anak. Tak lupa pula
pesan yang tersirat untuk menyemangati anak-anak. Sore yang cerah itu, juga
membawa keriangan bagi anak-anak. Arman, relawan ApePeBe, mengajak anak-anak
bermain dengan beberapa permainan seru.
Di
tempat terpisah, relawan lain tampak sibuk menyiapkan takjil. Ada yang memotong
ubi, memotong pisang, memeras santan, dan juga menyiapkan kayu sebagai tempat
memasaknya. Bang Tabis, begitu sapaannya, sebagai koordinator konsumsi, ia mempersiapkan
kolak ubi dan pisang dan teh hangat sebagai menu berbuka. Tim dibantu dengan
warga juga mempersiapkan makan malam yang akan disantap setelah selesai solat tarawih.
Terlihat ikan asin, sambal, dan juga sayur menghiasi nasi.
Waktu
berbuka telah tiba. Sedikit lebih cepat ketimbang di Medan. Anak-anak sudah
duduk rapi di atas tikar. Sebelum berbuka, relawan menyampaikan kultum seputar
Ramadhan. Tampak anak-anak semangat menyambut hari raya. Saat ditanya sudah
membeli baju baru, sebagian anak tunjuk tangan. Saat ditanya tak berpuasa,
banyak juga yang tunjuk tangan.
Kolak
dan teh hangat sudah di depan mata. Teh kemudian diminum, lalu diletak kembali,
kemudian semua membaca doa. Kolak kemudian disantap. Azan magrib bergema dari
mesjid. Selesai berbuka, anak-anak dan relawan bersiap menunaikan solat magrib.
Menghibur Warga di Malam Hari
Malam
kali ini disinari sejuta gugusan bintang. Tampak terang dan terpancar wajah-wajah
bahagia dari warga. Malam ini ada hiburan yang disuguhkan APePeBe. Alat musik
dan sound terpampang sedari tadi.
Awalnya,
tim menyelenggarakan Workshop untuk anak-anak. Pendekatan literasi musik mampu
membuat anak berekspresi. Anak-anak sama-sama berfikir untuk menciptakan sebuah
lagu. Tim membantu mereka untuk menciptakan kata-kata yang akan dijadikan lirik
lagu. Untuk lagu dan nada, kawan-kawan Filsafatian dan OI membantu anak-anak.
Lagu
pun tercipta. Anak-anak sorak bergembira. Tercipta juga hasil jerih payah
mereka selama beberapa jam. Lirik yang diciptakan benar-menar menggugah. Masih
perihal Sinabung. Harapan anak-anak agar tetap berjuang walau bahaya di depan
mata.
Desaku
yang ku cinta
Desaku
yang ku rindu
Takkan
kulupakan
Sangat
indah damai dan sejahtera
Bersih
lingkungannya
Rimbun
pepohonannya
Tuhan
hentikanlah erupsi Gunung Sinabung
Tuhan
ku ingin engkau kembalikan keindahan desa
Aku
sayang desa kembali seperti dulu
Kutaku emkap kuta Perbaji anak Kutaku seh kel
mehulina
Merga
pemantekna sembiring pelawi
E
naka sitotoken gelah sangap ncari
Kami
ngungsil ku kut a katok surbakti
Mulih
ku perbaji la diate bupati
Anggapna
kami gundari bagi anak serati
Setelah
bergembira ria sambil bernyanyi, giliran Koordinator APePeBe, Alley Bamboes
yang mengambil alih acara. Acara berikutnya yakni pembagian bantuan kepada
anak-anak. Ada 85 paket tersedia. Diantaranya 85 daypack, 85 tempat minum, 85
tempat P3K, 85 paket obat-obatan, buku-buku dan pakaian layak pakai. Semuanya
telah diserahkan kepada anak-anak dan warga Perbaji.
Menurut
Alley, total dana yang terkumpul sebesar ±Rp. 9.000.000 (sekitar sembilan juta
rupiah). Dana terkumpul melalui penggalangan dana dan juga sumbangan melalui
rekening bank. Mudah-mudahan bantuan ini bisa bermanfaat bagi adik-adik. Karena
bantuan yang diberikan kepada mereka adalah alat-alat tanggap bencana (mitigasi).
Alley
juga menambahkan bahwa kegiatan ini diadakan sebagai rasa kepedulian terhadap
warga Pebaji. Kegiatan ini dilaksanakan
agar anak muda kota Medan bisa mempersiapkan desa siaga bencana di zona
terdampak Gunung Sinabung. “Kita juga membangun jalinan silaturahmi bersama
warga dan komunitas”, imbuh Alley.
Hasan
Tarigan, tokoh masyarakat Perbaji, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan
kegiatan yang positif. Musik yang dibawakan juga mampu membangun kreasi dan
semangat anak-anak. Beliau berharap, kegiatan ini menjadi mediasi agar lebih
banyak lagi kawan-kawan yang hadir dan peduli dengan warga Perbaji, khususnya
anak-anak. “Semakin banyak kegiatan positif di sini, maka anak-anak terhibur,
kreativitas mereka meningkat dan mereka siap siaga jika bencana datang,
kapanpun itu. Ketakutan yang mendalam
bisa hilang menjadi semangat untuk tetap berjuang,” jelas Hasan.
APePeBe
sudah lama hadir di Perbaji. APePeBe hadir sebagai pemuda yang peduli terhadap
warga yang terkena dampak Gunung Sinabung. Perjuangan terus dilakukan, dengan
semaksimal mungkin, mereka ada untuk membantu. Susan Sinaga, salah satu relawan
APePeBe, menulis pesan indah di laman sosialnya: “Walaupun kami belum
bisa menghilangkan kecemasan di hati mereka akan erupsi dan lahar dingin Gunung
Sinabung, setidaknya kami sudah berusaha menghadirkan senyum di wajah mereka. Terima
kasih untuk kerja keras kita semua. Karena Sinabung Masih Indonesia.”
Lebih lanjut, bisa kunjungi laman FB: https://www.facebook.com/apepebe





Komentar
Posting Komentar