Sudahlah, Taati Saja Hukum, Itu Lebih Baik



Anak (jamak: anak-anak) adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas. Anak juga merupakan keturunan kedua, di mana kata "anak" merujuk pada lawan dari orang tua, orang dewasa adalah anak dari orang tua mereka, meskipun mereka telah dewasa.

Menurut psikologi, anak adalah periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah, kemudian berkembang setara dengan tahun tahun sekolah dasar.

Berdasarkan UU Peradilan Anak. Anak dalam UU No.3 tahun 1997 tercantum dalam pasal 1 ayat (2) yang berbunyi: “ Anak adalah orang dalam perkara anak nakal yang telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 tahun (delapan belas) tahun dan belum pernah menikah.

Sedangkan menurut Konvensi Hak Anak di Jenewa, secara umum mendefinisikan seorang anak sebagai umat manusia siapapun yang berusia di bawah 18 tahun, terkecuali apabila telah ditentukan oleh hukum negara bersangkutan.

Anak-anak adalah manusia yang seharusnya diberi asupan gizi berupa makanan, ilmu, dan keamanan yang membawanya menjadi manusia yang berilmu. Bagaimana jika ia dilibatkan dalam peperangan, situasi sosial yang berantakan, atau sebagai kepentingan politik?

Negara kita adalah negara hukum yang mempunyai landasan hukum yang baku. Setiap apapun yang dilakukan, hukum sudah membatasi hal-hal itu. Jadi tidak bisa seenak hati untuk melanggar hukum karena iktikad atau tujuan yang baik. Sama saja dengan melanggar hukum. Tidak bisa ditimbang-timbang lagi jika sudah melanggarnya.

Hal ini terjadi dan sempat memanas. Ketika berita Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melaksanakan Kampanye terbuka di Stadion Gelora Bung Karno. Berita-berita yang dimuat adalah berita tentang PKS yang melanggar hukum karena telah membawa anak-anak dalam aktifitas kampanye. Padahal, menurut Undang-undang 23 tahun 2002 pasal 87 mengatakan "Setiap orang yang menyalahgunakan anak dalam kegiatan politik itu diancam pidana penjara maksimal lima tahun dan atau denda berupa uang paling banyak Rp500 juta. Dijelaskan lagi dalam UU PKPU No.15 tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Kampanye, disitu disebutkan bahwa peserta pemilu dilarang memobilisasi warga yang belum memenuhi syarat sebagai pemilih alias anak-anak.

Dalam kasus ini, kita melihat jelas pelanggaran yang dibuat. Namun, klarifikasi yang dijelaskan PKS menurut berita yang dimuat di voaindonesia.com, Pengurus PKS, Zulhermansya, beliau mengatakan “alasan mereka membwa anak-anak karena

Juru bicara PKS Mardani Ali Sera mengungkapkan, adanya anak-anak dalam kampanye PKS menjadi bagian dari pewarisan ideologi partai. "Buat kami ini perjuangan ideologis, perjuangan militansi. Kami memang ingin mewarisi nilai sejak kecil agar mereka bukan cuma anak biologis. Tapi anak ideologis, Dengan kampanye, PKS ingin anak dari kader dan simpatisan menjadi anak yang memegang nilai dan misi hidup. "Jangan jadi anak yang cuma ikut arus dan tidak punya prinsip."
Kemudian pertanyaan lain muncul, disaat semua partai sudah kampanye, mengapa PKS yang hanya disalahkan seperti itu di media dengan membawa anak-anak berkampanye?

Kalau menurut kacamata saya, media sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Walau ada beberapa, namun tidak semua yang seperti itu. Ada sebuah foto di salah satu simpatisan PKS yang membuat bahwa foto itu menyudutkan media dengan mengatakan adanya pelacuran media. Disitu dikatakan bahwa media tidak adil dalam memberitakan kejujuran dalam hal ini kasus yang kita bicarakan adalah kampanye yang melibatkan anak-anak. Aku hanya menganalisis foto yang dilihatkan kepadaku kemarin. Foto tersebut adalah foto yang diberikan temanku yang juga merupakan simpatisan PKS. Dia merasa tidak adil, karena di foto itu juga terlihat ada partai lain. Namun, beda berita. Yang satu seakan memojokkan, dan yang satu lagi mendukung.

Kalau kita melihat disitu, di gambar tersebut adalah gambar PDIP yang berkampanye. Seakan membandingkan, teman saya satu ini tidak langsung mengecek kapan gambar itu diambil. Dan membandingkan dengan berita PKS yang terjadi hari minggu kemarin. Bukan membela, namun itulah faktanya. Melihat gambar pertama di sebelah kiri, tepatnya gambar simpatisan PKS yang membawa anak-anak, itu diambil tepat hari minggu kemarin tanggal 16 Maret 2014. Sedangkan gambar dari PDIP tersebut diambil pada tanggal 4 April 2009. Kalau saja yang membuat gambar tersebut mengangkan situs berita untuk PDIP sedikit saja, maka akan terlihat tanggal dari berita tersebut.

foto saya ambil dari link 


Kalau ingin melihat,, silahkan buka agar tidak terjadi kekeliruan.
link berita PKS

link berita PDIP

kalau ketidakadilan ada pada media, mugkin tidak semua seperti itu, kita melihat media juga memuat partai yang berkampanye dengan membawa anak seperti




Tidak semua media melakukan pelacuran, karena masih banyak media yang mengangkat kejujuran. Begitu juga dengan yang dilakukan partai-partai yang telah melanggar aturan. Apapun alasannya, hukum harus dihormati dan dilaksanakan. Apapun alasannya, hukum tetaplah hukum. Jika ada alasan telah melanggar hukum karena kebaikan. Itu sama dengan mencuri uang karena ingin memberi makan kepada orang miskin.

Sebagai orang media baru, saya menghimbau kepada semuanya untuk sama-sama melakukan kejujuran. Dan bukan sebuah kebohongan. Begitu juga partisipan dan simpatisan partai yang memang tidak menyukai hal ini. coba kita cermati dulu, kita kaji, analisis, kemudian klarifikasi, bukan membuat fitnah baru lagi. Kalaupun ada pelanggaran, Panwaslu dan KPU pasti akan bekerjasama menuntaskan hal tersebut karena mereka yang mempunyai wewenang. Kita taati saja, biar kita yang menyaksikan kejujuran itu.

Komentar

  1. Saya kira, tidak ada alasan untuk memilih partai yang tidak konsisten terhadap ideologi awalnya. #PartaiKawinSiri

    BalasHapus
  2. Media adalah alat yang esensinya dimaksudkan untuk memudahkan manusia mencapai kebenaran hakiki... namun telah banyak media yang malah sebaliknya, mempersulit kepada kebenaran.
    demi uang dari para korporat

    BalasHapus
  3. tidak seperti itu Joul Ware,,
    masih banyak media yang bersih,,seperti saya ini,,ahaha

    coba kita berkaca dulu,,,walau kelompok kita merasa disinggung,,,klo sudah bersalah,,,ya sadarlah

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer